Khaleda Zia Wafat, Cerita Rivalitas Politik 2 Perempuan yang Membelah Bangladesh

JAKARTA - Mantan Perdana Menteri Bangladesh Khaleda Zia wafat pada usia 80 tahun setelah menjalani perawatan akibat sakit berkepanjangan.

Kepergian Khaleda Zia menandai berakhirnya rivalitas politik dua perempuan paling berpengaruh di Bangladesh yang selama puluhan tahun membelah lanskap politik negara tersebut.

Khaleda Zia merupakan perdana menteri perempuan pertama Bangladesh yang menjabat pada 1991, setelah memimpin Partai Nasionalis Bangladesh (Bangladesh Nationalist Party/BNP) memenangkan pemilu demokratis pertama dalam dua dekade.

Sejak saat itu, politik Bangladesh didominasi persaingan keras antara Khaleda Zia dan rival utamanya, Sheikh Hasina.

Partai BNP mengumumkan wafatnya Khaleda Zia melalui media sosial pada Senin pagi dikutip dari BBC, Selasa, 30 Desember.

“Pemimpin kami yang paling kami cintai telah meninggalkan kami,” tulis BNP.

Kabar duka tersebut segera memicu kerumunan warga di sekitar rumah sakit di Dhaka tempat Khaleda Zia dirawat, dengan aparat keamanan berjaga untuk mengendalikan situasi.

Dokter menyatakan kondisi Khaleda Zia sempat berada dalam keadaan sangat kritis. Ia dilaporkan harus menjalani perawatan intensif dengan alat bantu hidup, namun keterbatasan penanganan medis akibat usia lanjut dan kondisi kesehatannya membuat upaya penyelamatan tidak membuahkan hasil.

Nama Khaleda Zia pertama kali dikenal publik sebagai istri Presiden Bangladesh Ziaur Rahman. Setelah Ziaur Rahman tewas dalam kudeta militer pada 1981, Khaleda Zia terjun ke dunia politik dan kemudian naik menjadi pemimpin BNP. Ia dikenal sebagai sosok tegas yang menolak berkompromi dengan rezim militer pada era 1980-an.

Pada masa jabatan pertamanya, pemerintahan Khaleda Zia dipuji karena mendorong pendidikan perempuan dan menghidupkan kembali sistem demokrasi parlementer melalui amendemen konstitusi. Namun, masa kekuasaan berikutnya diwarnai kritik, terutama terkait penyelenggaraan pemilu dan tuduhan korupsi.

Khaleda Zia kembali menjabat sebagai perdana menteri pada 2001 hingga 2006. Pemerintahannya saat itu menghadapi tekanan kuat akibat tudingan korupsi dan instabilitas politik. Setelah itu, ia semakin tersingkir dari kekuasaan seiring menguatnya posisi Sheikh Hasina dan Liga Awami.

Selama lebih dari satu dekade terakhir, Khaleda Zia menjadi simbol utama oposisi terhadap pemerintahan Sheikh Hasina yang dinilai sejumlah kalangan semakin otoriter. Ia sempat diboikot dari proses politik, dijatuhi hukuman dalam kasus korupsi yang selalu ia bantah, dan menjalani masa penahanan.

Meski kondisi kesehatannya terus menurun, BNP sebelumnya menyatakan Khaleda Zia masih berniat terlibat dalam kontestasi politik nasional. Namun, wafatnya Khaleda Zia kini menutup bab panjang persaingan politik personal yang membentuk sejarah Bangladesh modern.

Dengan kepergian Khaleda Zia, Bangladesh tak hanya kehilangan mantan kepala pemerintahan, tetapi juga satu dari dua figur sentral yang selama puluhan tahun menentukan arah politik negara tersebut.