Reporter New York Times Gugat xAI, Google, OpenAI dan Lainnya Atas Pelanggaran Hak Cipta
JAKARTA – Reporter New York Times, John Carreyrou, menggugat sejumlah perusahaan Kecerdasan Buatan (AI) karena penggunaan karya tanpa izin. Perusahaan tergugat adalah xAI, Google, Meta, OpenAI, Anthropic, dan Perplexity.
Gugatan ini diajukan ke Pengadilan Federal California pada 22 Desember lalu bersama lima penulis lainnya. Dalam gugatan tersebut, Carreyrou menuding keempat perusahaan melatih model AI mereka dengan buku-buku yang memiliki hak cipta tanpa izin.
Gugatan ini didasari pada penggunaan buku untuk pelatihan AI tanpa pemberian kompensasi. Gugatan Carreyrou menarik perhatian karena xAI, perusahaan milik Elon Musk yang terintegrasi dengan X, pertama kali disebutkan dalam kasus hak cipta.
Para penggugat menolak untuk bergabung dalam gugatan kelompok atau class action. Menurut mereka, penyelesaian dengan sistem tersebut akan merugikan penulis secara individu karena potensi kompensasi yang rendah.
Dalam dokumen yang diserahkan ke pengadilan, para penggugat menyatakan bahwa perusahaan AI tidak boleh menghapus klaim bernilai tinggi dengan harga murah. Penulis menuntut ganti rugi yang sebanding dengan potensi kerugian ekonomi yang mereka alami.
Baca juga:
- Indosat Buat Usaha Serat Optik Senilai Rp14,6 Triliun bersama Perusahaan Adik Prabowo
- Bukan Hanya Rusia, Ini Daftar Negara yang Blokir Roblox
- Lintasarta Siapkan Infrastruktur Digital Andal Hadapi Lonjakan Trafik Nataru 2026
- OpenAI Hadirkan Fitur Kustomisasi Kepribadian ChatGPT yang Lebih Mendalam bagi Pengguna
"Perusahaan LLM seharusnya tidak dapat dengan mudah menghapus ribuan klaim bernilai tinggi dengan harga sangat murah," tulis para penggugat dalam gugatannya, mengutip dari Tech in Asia pada Selasa, 23 Desember.
Gugatan ini juga merujuk pada kasus Anthropic yang sebelumnya menyepakati penyelesaian senilai 1,5 miliar dolar AS (Rp25,1 triliun). Para penggugat menganggap bahwa pembagian kompensasi tersebut masih terlalu kecil bagi para pencipta karya.
Mereka menyatakan bahwa anggota kelompok dalam kasus tersebut hanya menerima sekitar 2 persen dari nilai maksimum undang-undang. Hal ini yang mendorong Carreyrou dan timnya untuk menempuh jalur hukum dengan gugatan mandiri di pengadilan.