10 Daerah di Sumsel Tetapkan Siaga Darurat Bencana Jelang Natal dan Tahun Baru
JAKARTA - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Selatan (Sumsel) menyebutkan sebanyak 10 daerah di provinsi itu menetapkan status siaga darurat bencana hidrometeorologi jelang Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.
Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel Sudirman mengatakan penetapan sebagai langkah antisipasi potensi cuaca ekstrem yang diperkirakan berlangsung hingga awal 2026, termasuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana seperti banjir, tanah longsor dan angin kencang.
“Penetapan status siaga ini agar penanganan bencana bisa lebih cepat, mulai dari pemantauan dan pemetaan wilayah rawan, kesiapan personel serta peralatan, hingga penguatan koordinasi dengan pemerintah daerah dan instansi terkait,” katanya di Palembang, Senin, disitat Antara.
Adapun 10 daerah yang telah menetapkan status siaga darurat bencana hidrometeorologi, meliputi Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), OKU Selatan, Musi Banyuasin (Muba), Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir (OKI), Musi Rawas Utara (Muratara), Banyuasin, serta Kota Pagar Alam, Prabumulih, dan Lubuklinggau. Selain itu, Pemerintah Provinsi Sumsel juga menaikkan status kewaspadaan wilayahnya menjadi siaga.
Pihaknya mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama warga yang bermukim di bantaran sungai, daerah rendah, serta lereng perbukitan. Masyarakat diminta segera melaporkan kepada pihak berwenang apabila muncul tanda-tanda potensi bencana.
“Kami mengingatkan agar semua pihak waspada menghadapi puncak musim hujan 2025–2026,” ujarnya.
Baca juga:
- Ditangani Mahkamah Eropa, UU Denmark Paksa Renovasi Permukiman Sasar Imigran Dinilai Diskriminatif
- Ukraina Terima 1.003 Jenazah Tentaranya dari Rusia
- Dubai Kebanjiran, Polisi Imbau Warga UEA Tetap di Rumah kecuali Urgen
- Pemimpin Pemuda Bangladesh Meninggal di Singapura Setelah Ditembak OTK Bertopeng di Dhaka
Berdasarkan data BPBD Sumsel, sepanjang tahun ini hingga 17 Desember 2025 tercatat 259 kejadian bencana di wilayah Sumsel. Bencana tersebut didominasi banjir sebanyak 98 kejadian, angin kencang 81 kejadian, kebakaran permukiman 52 kejadian, tanah longsor 24 kejadian, angin puting beliung tiga kejadian, dan banjir bandang satu kejadian.
Dari total kejadian tersebut, sebanyak 156 unit rumah mengalami rusak berat, 81 rumah rusak sedang, dan 336 rumah rusak ringan, serta 62.800 rumah terendam banjir. Dampak bencana juga mengenai 18 fasilitas pendidikan, lima fasilitas kesehatan, delapan rumah ibadah, dan 14 bangunan lainnya.
Selain itu, bencana hidrometeorologi di Sumsel turut berdampak pada sektor pertanian dan infrastruktur, yakni 2.154 hektare sawah dan 374,5 hektare perkebunan terdampak, serta menyebabkan kerusakan pada 17 jembatan dan satu jaringan irigasi.
“Total warga terdampak mencapai 37.655 kepala keluarga, dengan 205 kepala keluarga mengungsi, tujuh orang luka-luka, dan tiga orang meninggal dunia,” kata Sudirman.