Memahami Cara Kerja Sistem Pengapian Konvensional pada Kendaraan Bermotor
YOGYAKARTA - Cara kerja sistem pengapian konvensional menjadi dasar penting dalam memahami proses pembakaran mesin bensin, terutama pada kendaraan lama yang masih mengandalkan sistem mekanis.
Meski tergolong teknologi lama, sistem ini masih banyak digunakan dan dipelajari karena konstruksinya sederhana serta mudah dirawat oleh pemilik kendaraan. Dilansir VOI dari laman Champion Autoparts, berikut beberapa hal yang perlu Anda pahami:
Pengertian Sistem Pengapian Konvensional
Sistem pengapian konvensional adalah sistem pengapian yang menggunakan komponen mekanis berupa platina (breaker point) untuk memutus dan menghubungkan arus listrik.
Secara sederhana, sistem ini bertugas menghasilkan percikan api di busi agar campuran udara dan bahan bakar dapat terbakar di dalam silinder mesin.
Komponen Sistem Pengapian Konvensional
Beberapa komponen utama dalam sistem pengapian konvensional antara lain aki, kunci kontak, koil pengapian, platina, kondensor, distributor, kabel tegangan tinggi, dan busi.
Semua komponen ini bekerja secara berurutan untuk menghasilkan percikan api yang tepat waktu.
Baca juga:
Cara Kerja Sistem Pengapian Konvensional
Cara kerja sistem pengapian konvensional terbagi menjadi dua rangkaian listrik, yaitu rangkaian primer dan rangkaian sekunder.
Baca juga artikel yang membahas Kaget! Begini Efek Bensin Campur Etanol pada Kendaraan Harian
Rangkaian primer membawa arus listrik bertegangan rendah dari aki. Saat kunci kontak diputar ke posisi ON, arus mengalir menuju lilitan primer koil melalui platina yang dalam kondisi tertutup. Nah, aliran arus ini membentuk medan magnet di sekitar koil pengapian.
Kemudian ketika mesin berputar, poros distributor ikut berputar dan membuka platina secara tiba-tiba. Saat platina terbuka, arus pada rangkaian primer terputus dan medan magnet di koil runtuh dengan cepat.
Kemudian kondensor pada rangkaian primer berfungsi menyerap lonjakan arus dan mencegah percikan api pada platina, sekaligus mempercepat runtuhnya medan magnet.
Runtuhnya medan magnet ini akan menghasilkan tegangan tinggi pada lilitan sekunder koil. Tegangan tinggi tersebut dialirkan melalui kabel koil menuju distributor, kemudian diteruskan ke busi sesuai urutan pengapian.
Kemudian percikan api yang muncul di ujung busi membakar campuran udara dan bahan bakar di dalam silinder, sehingga mesin dapat bekerja.
Setelah itu, platina kembali menutup, arus primer kembali mengalir, medan magnet terbentuk lagi, dan siklus ini berulang untuk silinder berikutnya. Proses ini terjadi sangat cepat, bahkan dalam hitungan milidetik.
Kelebihan dan Kekurangan Sistem Pengapian Konvensional
Sistem pengapian konvensional memiliki kelebihan berupa konstruksi sederhana, mudah diperbaiki, dan biaya perawatan yang relatif murah. Sistem ini juga cocok untuk pembelajaran dasar otomotif.
Namun, sistem ini memiliki kekurangan, seperti komponen platina yang mudah aus dan memerlukan penyetelan rutin. Selain itu, performa pengapian cenderung kurang stabil pada putaran mesin tinggi.
Dibandingkan sistem pengapian elektronik dan distributorless, sistem pengapian konvensional masih bergantung pada komponen mekanis. Sistem modern menawarkan pengapian lebih presisi, minim perawatan, dan performa stabil, namun biaya perbaikan cenderung lebih mahal dibanding sistem konvensional.
Selain itu, pemahaman sistem konvensional memudahkan mekanik pemula dalam mendiagnosis masalah pengapian sebelum beralih ke teknologi sistem pengapian yang lebih modern dan kompleks.
Memahami cara kerja sistem pengapian konvensional membantu pemilik kendaraan mengenali proses pembakaran mesin secara menyeluruh. Meski tergolong teknologi lama, sistem ini tetap relevan sebagai dasar ilmu otomotif dan perawatan mesin berbahan bakar bensin.