Bagikan:

YOGYAKARTA - Efek bensin campur etanol pada kendaraan harian, baru-baru ini sering jadi perbincangan di kalangan pecinta otomotif. Campuran ini disebut lebih ramah lingkungan, tapi banyak yang khawatir bisa memengaruhi performa mesin, efisiensi bahan bakar, bahkan daya tahan komponen kendaraan.

Di tengah upaya pemerintah mengembangkan bahan bakar alternatif, etanol mulai digunakan sebagai campuran bensin di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Namun, sebelum ikut beralih, penting untuk memahami bagaimana reaksi etanol terhadap sistem pembakaran dan dampaknya bagi mesin.

Efek Bensin Campur Etanol

Dilansir dari laman bellperformance, berikut ini daftar efek bensin campur etanol yang paling sering dialami pengguna kendaraan:

  • Penurunan Jarak Tempuh (Loss of Mileage)

Etanol memiliki nilai energi lebih rendah dibanding bensin murni. Karena molekul etanol lebih kecil dan mengandung lebih sedikit ikatan karbon, daya bakarnya pun menurun.

Akibatnya, mesin membutuhkan lebih banyak bahan bakar untuk menempuh jarak yang sama. Contohnya, campuran E10 bisa menurunkan efisiensi bahan bakar hingga 3,5–5%, sementara E15 dapat menurunkan lebih banyak lagi. Dalam jangka panjang, ini berarti konsumsi bensin meningkat meski harga per liternya terlihat lebih murah.

Baca juga artikel yang membahas Etanol Dianggap Tak Cocok untuk Wilayah Tropis, Ini Kata Dirjen EBTKE

  • Menarik Kelembapan (Water Attraction)

Etanol sangat mudah menyerap air dari udara. Bahkan etanol murni pun tidak bisa 100% bebas air.

Masalahnya, saat air terserap ke dalam tangki bahan bakar, air akan tenggelam ke dasar karena lebih berat dari bensin. Kondisi ini bisa menimbulkan berbagai gangguan pada sistem bahan bakar dan mesin, terutama jika kendaraan jarang digunakan atau disimpan lama.

  • Jadi Tempat Tumbuh Mikroba

Ketika air mulai menumpuk di dasar tangki, mikroba seperti bakteri dan jamur bisa tumbuh di area perbatasan antara bahan bakar dan air. Mikroba ini memakan komponen dalam bahan bakar dan menghasilkan zat korosif yang bisa merusak tangki, filter, hingga saluran bahan bakar.

Meskipun kasus ini lebih sering terjadi pada penyimpanan jangka panjang (seperti tangki besar di kapal atau gudang), tetap saja perlu diwaspadai oleh pengguna kendaraan harian.

  • Pemisahan Fase (Phase Separation)

Jika kadar air sudah tinggi, campuran bensin dan etanol bisa terpisah menjadi dua lapisan yaitu lapisan atas berisi bensin dan lapisan bawah berisi campuran etanol dan air.

Masalahnya, bahan bakar yang sudah “terpisah fase” ini tidak bisa dicampur kembali. Lapisan bawah yang tersedot ke mesin dapat menyebabkan pembakaran tidak sempurna dan merusak komponen.

  • Potensi Korosi pada Tangki dan Komponen

Etanol dapat mempercepat korosi pada plastik, karet, dan fiberglass, terutama di kendaraan lama yang belum dirancang untuk bahan bakar etanol. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menyebabkan kebocoran, kerusakan pompa bahan bakar, dan biaya perawatan yang lebih tinggi.

Dapat disimpulkan jika campuran bensin dan etanol memang ramah lingkungan, tapi tetap punya sisi negatif yang harus diperhatikan.

Efek bensin campur etanol seperti penurunan efisiensi, korosi, hingga masalah air bisa dihindari dengan rutin merawat sistem bahan bakar dan menggunakan bahan bakar sesuai rekomendasi pabrikan kendaraan.

Selain pembahasan mengenai efek bensin campur etanol, ikuti artikel-artikel menarik lainnya di  VOI, untuk mendapatkan kabar terupdate jangan lupa follow dan pantau terus semua akun sosial media kami!