Wali Band yang Jadi Anomali, Menembus Batasan Segmentasi Penikmat

JAKARTA - Diam-diam masih bertengger di industri musik, band Wali bisa dibilang jadi anomali tersendiri. Mereka konsisten dengan lagu-lagu berlirik sederhana, sering bermuatan religi hingga sesekali menunjukkan skill musik tingkat tinggi.

Karier mereka terlihat konsisten, tak pernah disebut band termahal, terviral tapi selalu bertahan. Penggemar mereka, Parawali, pun bertumbuh. Mereka tak lagi terbelenggu segmentasi.

Ada yang setia dari tahun pertama Wali memulai debutnya di kancah musik, ada juga yang datang dari generasi Z. Namun nyaris tak ada pergesekan, mana fans yang lebih paten, mereka malah satu suara dalam mendukung Faank dkk.

Fenomena populernya Wali di kalangan Gen Z berawal dari meme yang diamini oleh personelnya sendiri. Gitaris Wali, Apoy sempat viral karena dibilang mirip eaJ, sampai skill bermain gitarnya yang diakui banyak orang.

Gelombang fans K-Pop yang datang disambut dengan tangan terbuka oleh band pelantun Cari Jodoh tersebut. Kultur fans Korea tak pernah dibantah, dari istilah Wali Sunbaenim sampai lightstick khusus yang jadi atribut di pertunjukan Wali, semua melebur jadi satu.

Jangan lupakan juga chant Eee Aaa, yang kerap diteriakkan fans di berbagai konser K-Pop. Ide ini awalnya tercetus dari interaksi Wali dengan penggemar di aksi langsung mereka. Tampaknya diam-diam semuanya memang kompatibel.

Wali tetap dengan identitas musik mereka yang sudah kuat, tapi bisa merangkul para fans yang mungkin sudah seusia anak personelnya. Itulah ajaibnya musik, yang bisa meruntuhkan segregasi genre, selera bahkan usia.

Fenomena ini mungkin jarang dijumpai di band lain yang tak jarang kesulitan beradaptasi. Entah rezeki, takdir atau memang kehendak semesta, Wali bertahan dan mencuat dengan caranya sendiri.