Sambut Tahun 2026, Heart Pictures Luncurkan Tiga Film Lintas Genre

YOGYAKARTA - Tahun 2026, gedung bioskop Indonesia akan disemarakkan tiga film karya Heart Pictures. Film dengan genre berbeda, Dowa Juseyo (horor psikologis), Black Coffee (drama romantis) dan Sahabat Anak, film musikal keluarga.

Film dari Heart Pictures memang berbeda rupa. Namun ketiga film ini lahir dari visi yang sama, yaitu sebuah upaya menghasilkan karya yang dekat dengan realitas manusia, menghormati budaya, serta membuka ruang respresentasi yang lebih luas dalam sinema Indonesia.

Film drama terbaru Black Coffee karya Jeremias Nyangoen telah resmi menyelesaikan proses syuting dan kini memasuki tahap pasca produksi akhir. Namun film tersebut dipastikan tayang pada tahun 2026.

Mengangkat cinta, kehilangan, dan keberanian untuk tetap bertahan, film ini mengikuti perjalanan pasangan tunanetra asal Gayo, Aceh. Onot dan Rabiah, pasangan difabel tersebut menjalani lika-liku perjuangan dan kerinduan untuk memiliki keturunan.

“Saya ingin penonton merasakan keheningan, ruang kosong, dan kekuatan cinta yang tetap hidup meski dalam keterbatasan,” kata Jeremias dalam Media Visit JAFF Market di JEC, Yogyakarta, Selasa, 2 Desember 2025 .

Film yang diperankan aktor kawakan Reza Rahadian dan Sha Ine Febriyanti, menawarkan performa yang intens, intim, dan penuh kedalaman emosional, merasakan dunia dari perspektif karakter yang tidak melihat. Namun penonton bakal merasakan bagaimana sebuah komunikasi dibangun melalui bahasa batin, suara, sentuhan, dan diam.

Proses produksi dilakukan di Takengon, Aceh dan perkebunan kopi Gayo, salah satu daerah kopi paling berpengaruh di Indonesia. Lokasi tampil bukan sekadar sebagai ruang visual, tetapi sebagai bagian dari karakter film itu sendiri.

Film ini juga melibatkan aktor lokal seperti Kabri Wali dan Hafidz Al Mukthariza, guna memastikan representasi budaya Aceh yang dibangun dengan autentik, relevan, dan penuh hormat. Black Coffee akan menjajaki Festival Film International pada pertengahan 2026, sebelum rilis melalui jaringan bioskop nasional dan global serta platform digital.

Sementara, film horor psikologis Dowa Juseyo yang dibintang Saskia Chadwick dan Youtuber Kim Seo-young, yang kini memasuki tahap pengembangan lebih lanjut. Film ini menggabungkan elemen investigasi emosional, budaya Korea Selatan, dan isu sosial yang sensitif.

Cerita mengikuti Tania, mahasiswi pertukaran pelajar dari Indonesia yang suatu saat terhubung dengan roh Min Yong, korban kekerasan seksual yang meninggal tanpa keadilan.

Dowa Juseyo bukan hanya sekedar film horror, tetapi juga drama dengan pesan moral dan memberikan sentuhan baru untuk genre horror di Indonesia, kami ingin film ini bukan hanya sekedar merasakan kemarahan dan empati, tetapi juga hangatnya sebuah cinta," kata Herty Purba, Executive Producer Heart Pictures.

“Kami ingin film ini bukan hanya sekedar merasakan kemarahan dan empati, tetapi juga hangatnya sebuah cinta,” ujar dia.

Film ini disutradarai oleh Nur Muhammad Taufik dan Sjahfasyat Bianca, dua sutradara muda dengan pendekatan visual modern dan naskah yang berlapis psikologi karakter. Lokasi syuting dilakukan di Busan, Korea Selatan, dengan sentuhan estetika urban, tradisi, dan ruang

spiritual. Dalam tahapan promosi dan mengutamakan cerita dan visual yang kuat. Dalam distribusinya, salah satu rumah produksi film ternama resmi bergabung sebagai mitra, membawa kualitas profesional melalui kolaborasi yang segera diumumkan.

“Kami di Sinemaku Pictures sangat berbahagia bisa mendukung film Dowa Juseyo. Benang merah yang ingin disampaikan film ini beresonansi kuat dengan visi kami. Isu-isu yang diangkat juga penting karena menjembatani budaya Korea dan Indonesia, namun tetap bisa

dipahami melalui bahasa yang universal,” tutur Vontian Suwandi, Business Development Sinemaku Pictures, di Booth Heart Pictures, JAFF Market.

“Bagi kami, film ini bukan sekadar karya, tetapi juga medium yang menyampaikan pesan bermakna. Kami berharap Dowa Juseyo dapat diterima dengan baik dan meraih kesuksesan,” kata dia lebih lanjut.

Sedangkan film Sahabat Anak, akan menjadi wajah yang lebih cerah dalam rangkaian proyek ini. Terinspirasi dari perjalanan dan dedikasi Kak Seto dalam memperjuangkan hak anak Indonesia, film ini dirancang sebagai tontonan keluarga yang menyenangkan sekaligus mendalam.

Disutradarai Irham Acho Bahtiar, film ini memadukan elemen musikal, drama, dan fondasi psikolog anak. Lagu-lagu yang disiapkan menjadi jembatan emosional antara karakter, penonton, dan pesan film yang ringan di telinga, namun tetap kuat.

Film dibintangi Ajil Ditto sebagai Kak Seto muda dan Lutesha sebagai Dela, serta jajaran aktor cilik. Format musikal dipilih untuk film itu agar pesan yang dalam dapat diterima dengan cara yang hangat, mudah diingat dan menyentuh lintas generasi.

“Bagi saya, anak-anak adalah masa depan bangsa, Film ini bukan hanya hiburan, tetapi juga ajakan untuk mendengar suara anak dan merayakan keberadaan mereka. Saya berharap Sahabat Anak dapat menjadi ruang yang menghadirkan anak-anak dan keluarga Indonesia kehangatan, keberanian, dan rasa percaya diri bagi para penonton muda,” kata Kak Seto.