Deteksi Karya Musik Berbasis AI Masih Jadi Tantangan AMI Awards

JAKARTA - Isu kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) telah menyeruak masuk ke industri musik global, memicu perdebatan sengit tentang orisinalitas dan keterlibatan manusia dalam karya seni.

Dalam konteks Anugerah Musik Indonesia (AMI) Awards, isu AI menjadi perhatian serius yang saat ini masih dalam tahap diskusi mendalam.

Syaharani, penyanyi jazz yang juga menjabat sebagai Dewan Kategorisasi Yayasan AMI Awards, mengakui bahwa detektor untuk karya yang sepenuhnya dihasilkan AI memang belum tersedia secara universal.

Namun menurutnya, telinga yang terbiasa mendengarkan musik, apalagi rekaman analog, bisa membedakan secara tipis-tipis mana yang merupakan karya artifisial.

"Sejauh mana kamu bikin pakai AI? Nah, ini kan yang paling sulit, kan?" ucap Syaharani, ditemui di Senayan, Jakarta Pusat beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan, kompleksitas karya AI sangat bergantung pada prompt atau perintah yang diberikan oleh kreator. Jika prompt yang dimasukkan sangat detail, mencapai ribuan kata hingga mendikte setiap bar lagu, maka prosesnya hampir sama rumitnya dengan pembuatan musik secara konvensional.

Syaharani menyatakan bahwa Ketua Umum Yayasan AMI, Candra Darusman, telah mengadakan diskusi intensif sejak tahun lalu yang melibatkan banyak produser muda mengenai fenomena AI ini.

Dalam diskusi tersebut, muncul dua pandangan: ada yang setuju menggunakan AI sebagai bagian dari produksi—misalnya untuk penghematan dalam mixing atau mastering—tetapi musiknya tetap dibuat manual, dan ada juga yang menggunakan AI secara menyeluruh.

"Karya AI ini memang masih menjadi diskusi, saya rasa," ujarnya.

Ia memprediksi, jika penggunaan AI terus marak, suatu saat AMI Awards mungkin akan mempertimbangkan pembukaan kategori baru, seperti 'Karya AI Terbaik', meskipun genre-genre musik yang sudah baku (seperti jazz, pop, rock) kemungkinan tidak akan terganggu.

Poin krusial yang digarisbawahi Syaharani adalah persentase penggunaan AI dalam sebuah karya dan kejujuran dari musisi.

"Kalau kamu pakainya cuma 10 persen tapi kamu jujur pakai AI, dengan yang 100 persen AI semua tapi rajin nge-prompt, misalnya. Kan itu akan sulit sekali mencari perbedaannya," jelasnya.

Mengacu pada diskusi yang pernah diadakan AMI Awards, Syaharani menyebut bahwa beberapa negara seperti Inggris dan Amerika Serikat telah memiliki pengumuman atau regulasi mengenai persentase penggunaan AI yang dianggap sebagai karya yang digarap di studio.

Oleh karena itu, AMI Awards terus menunggu input dari para ahli, musisi, dan jurnalis musik untuk merumuskan pagar-pagar atau batasan yang paten dalam menilai karya yang melibatkan AI.