Jack Dorsey Danai Proyek diVine, Hidupkan Kembali Aplikasi Video Vine

JAKARTA – Jack Dorsey, salah satu pendiri Twitter, mendukung proyek untuk menghidupkan kembali aplikasi Vine yang dulu sempat populer. Proyek penghidupan aplikasi ini diberi nama diVine.

Saat aplikasi ini dipulihkan, akan ada lebih dari 10.000 video arsip Vine yang bisa diakses. Nantinya, platform ini tidak hanya menampilkan klip yang dipulihkan dari Vine. Pengguna juga dapat membuat profil dan mengunggah video Vine baru mereka sendiri.

Dana untuk proyek diVine dari organisasi nirlaba milik Jack Dorsey yang bernama 'and Other Stuff'. Organisasi ini fokus pada pendanaan proyek sumber terbuka eksperimental dan perangkat yang berpotensi merevolusi ekosistem media sosial.

Salah satu orang yang berperan penting dalam kelahiran diVine adalah Evan Henshaw-Plath, mantan karyawan Twitter. Anggota 'and Other Stuff' tersebut, bersama dengan timnya, berhasil menjelajahi arsip Vine yang tidak terpakai sejak platformnya ditutup pada 2016.

Video-video tersebut dipulihkan dari cadangan lama yang disimpan oleh Tim Arsip sebagai berkas biner berukuran besar, sekitar 40-60 GB. Henshaw-Plath mengambil inisiatif untuk menulis skrip big data guna mengekstrak konten lama tersebut. 

Henshaw-Plath pun berhasil merekonstruksi sekitar 150.000 hingga 200.000 klip dari sekitar 60.000 kreator. Meski banyak arsip yang dipulihkan, diVine memberikan kebebasan kepada kreator Vine yang asli. 

Para kreator dapat mengirimkan permintaan penghapusan jika mereka ingin video mereka dihapus dari arsip diVine. Mereka juga dapat memverifikasi kepemilikan akun dengan menunjukkan akses ke akun media sosial yang terhubung dengan bio Vine lama mereka.

Selain mengembalikan hak cipta, diVine akan memiliki fitur yang sangat berbeda dengan platform lamanya. Platform tersebut akan memiliki kebijakan yang ketat terhadap konten yang dihasilkan oleh Kecerdasan Buatan (AI). 

Tidak seperti aplikasi media sosial pada umumnya, diVine akan menandai konten buatan Gen AI dan mencegahnya diunggah secara daring. Untuk memverifikasi keaslian konten sebagai buatan manusia, Henshaw-Plath memanfaatkan teknologi dari Guardian Project.