Warga Gaza Alami Trauma Psikologis Akibat Kampanye Militer Israel

JAKARTA - Warga Jalur Gaza, Palestina menderita "gunung berapi" trauma psikologis akibat kampanye militer Israel yang menghancurkan, yang semakin jelas terlihat sejak gencatan senjata bulan lalu, menurut spesialis kesehatan mental Palestina.

Dua tahun pemboman intens Israel dan serangan militer berulang yang menurut otoritas kesehatan setempat telah menewaskan lebih dari 68.000 orang, bersama dengan tunawisma dan kelaparan yang meluas, telah memengaruhi seluruh 2,3 juta penduduk wilayah kantong Palestina itu.

Krisis ini terlihat jelas dari banyaknya orang yang kini mencari perawatan dari tim Rumah Sakit Kesehatan Jiwa Kota Gaza, yang kini bekerja di klinik terdekat karena bangunan mereka rusak, kata Kepala Rumah Sakit Kesehatan Jiwa Kota Gaza Abdallah al-Jamal.

"Dengan dimulainya gencatan senjata, rasanya seperti gunung berapi yang meletus di antara pasien yang mencari layanan kesehatan mental. Bahkan stigma yang dulu ada, rasa takut mengunjungi psikolog, kini hilang," ujarnya, menggambarkan "peningkatan yang sangat besar" dalam jumlah pasien sebelum konflik, melansir Reuters 4 November.

Jamal dan seorang rekannya bekerja sebaik mungkin, tetapi karena rumah sakit mengalami kerusakan parah, sumber daya mereka terbatas dan mereka harus berbagi kamar, sehingga pasien tidak dapat berkonsultasi secara pribadi.

"Sejujurnya, hal itu sangat menyinggung dari segi layanan yang diberikan, tetapi kami berusaha sebisa mungkin untuk mencari alternatif," ungkapnya tentang lebih dari 100 pasien yang mereka tangani di sana setiap hari.

Di antara anak-anak, terdapat laporan yang meluas tentang teror malam, mengompol, dan gejala-gejala lain termasuk ketidakmampuan untuk berkonsentrasi, kata spesialis kesehatan mental dari Bulan Sabit Merah Palestina.

"Anak-anak Gaza sekarang menderita kekurangan makanan, air, tempat tinggal, dan pakaian," kata Nivine Abdelhadi, spesialis dari organisasi tersebut, yang menawarkan kegiatan untuk anak-anak yang mencakup permainan dan cerita.

Diketahui, meskipun gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober, pelanggaran berulang terus terjadi sejak saat itu.

Kendati demikian, hal ini menghentikan peperangan besar dalam konflik tersebut, yang dipicu oleh serangan Hamas terhadap Israel pada tanggal 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 orang menurut penghitungan Israel.