Ratusan Orang Diduga Dieksekusi Mati dalam Perebutan Kota Al-Fashir Sudan

JAKARTA - Ratusan warga sipil Sudan dan pejuang tak bersenjata kemungkinan tewas dalam perebutan kota Al-Fashir yang telah lama dikepung oleh pasukan paramiliter Sudan.

Kota tersebut, benteng pertahanan terakhir tentara Sudan di wilayah barat Darfur, jatuh ke tangan Pasukan Dukungan Cepat paramiliter pada Minggu, mengakhiri pengepungan selama 18 bulan.

"Kami memperkirakan jumlah korban tewas warga sipil dan mereka yang berada di luar pertempuran selama serangan RSF di kota tersebut dan rute keluarnya, serta pada hari-hari setelah pengambilalihan, bisa mencapai ratusan," ujar juru bicara kantor hak asasi manusia PBB, Seif Magango, dalam jumpa pers di Jenewa pada Jumat, 31 Oktober, menjelaskan kesaksian tentang eksekusi singkat dan pembunuhan massal.

Dilansir Reuters, RSF menepis tuduhan pelanggaran sebelumnya, dan telah melontarkan tuduhan balasan terhadap tentara Sudan.

Puluhan ribu orang telah mengungsi dari kota di tengah pergolakan, dan beberapa kesaksian mengenai kekejaman Al-Fashir berasal dari para penyintas yang harus berjalan kaki selama tiga atau empat hari ke kota Tawila.

Magango mengatakan kantornya menerima kesaksian dari para pekerja bantuan, setidaknya 25 perempuan diperkosa beramai-ramai ketika para pejuang RSF memasuki tempat penampungan bagi para pengungsi di dekat universitas.

"Para saksi mata mengonfirmasi bahwa personel RSF memilih perempuan dan anak perempuan dan memperkosa mereka dengan todongan senjata, memaksa para pengungsi yang tersisa—sekitar 100 keluarga—untuk meninggalkan lokasi di tengah penembakan dan intimidasi terhadap para warga lanjut usia," ujarnya.