Fitur Autopilot Tesla Kembali Diselidiki Usai Terjadinya Rentetan Kecelakaan

JAKARTA – Badan Keselamatan Lalu Lintas Jalan Raya Amerika Serikat (National Highway Traffic Safety Administration/NHTSA) kembali menyoroti Tesla terkait fitur Full Self-Driving (FSD) atau autopilot.. Otoritas tersebut membuka penyelidikan baru setelah ditemukan puluhan kecelakaan yang diduga melibatkan penggunaan fitur mengemudi otomatis tersebut.

Dilansir dari ArenaEV, Jumat, 10 Oktober, NHTSA mengaitkan sedikitnya 58 kecelakaan terbaru dengan penggunaan FSD. Dari jumlah tersebut, tercatat 23 orang mengalami luka-luka dan 14 insiden menyebabkan kendaraan terbakar.

Kasus ini menambah panjang daftar kontroversi seputar fitur mengemudi otonom Tesla yang selama ini diklaim mampu mengemudi secara mandiri tanpa intervensi pengemudi. Dalam penyelidikan kali ini, NHTSA akan memusatkan perhatian pada dua skenario utama.

Di mana, kegagalan sistem FSD dalam berhenti di lampu merah hingga menerobos persimpangan, serta tindakan berpindah jalur ke arah lalu lintas berlawanan. Regulator juga tengah mewawancarai sejumlah pengemudi untuk memastikan apakah sistem memberikan peringatan yang memadai sebelum melakukan manuver berisiko.

Selain itu, lembaga tersebut juga menyoroti perilaku FSD di area perlintasan rel kereta api. Beberapa laporan menyebutkan sistem tidak selalu berhenti ketika melintasi rel, sebuah potensi bahaya serius yang kini menjadi fokus penyelidikan tambahan.

Secara keseluruhan, penyelidikan mencakup sekitar 2,88 juta unit Tesla yang dilengkapi dengan perangkat lunak FSD Beta. Hingga saat ini, Tesla belum memberikan tanggapan resmi terkait langkah investigasi tersebut.

Namun, jika hasil penyelidikan menunjukkan adanya cacat sistem, Tesla berpotensi menghadapi tindakan serius mulai dari penarikan massal (recall) hingga denda administratif. Dalam beberapa tahun terakhir, Tesla memang kerap berada di bawah tekanan akibat serangkaian kecelakaan yang melibatkan fitur autopilot dan FSD.

Otoritas di California bahkan pernah menuduh perusahaan milik Elon Musk itu melakukan praktik pemasaran yang menyesatkan dengan mengklaim FSD mampu mengemudi sepenuhnya secara mandiri.

Kasus ini menjadi ujian penting bagi masa depan teknologi kendaraan otonom.