Menkeu Purbaya Ungkap Efek Injeksi Likuiditas ke Sektor Riil Terasa dalam 4 Bulan

JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan waktu yang dibutuhkan hingga sektor riil mulai mengambil kredit dari perbankan membutuhkan waktu sekitar 4 bulan dan efeknya akan mulai dirasakan dalam waktu dekat. 

Dia menjelaskan, jika dibandingkan dengan internasional seperti di Amerika Serikat misalnya, efek dari injeksi uang ke sistem biasanya terasa setelah sekitar 14 bulan.

Namun, di Indonesia biasanya dalam waktu 4 bulan efeknya sudah mulai terlihat. 

"Kalau kita lihat sih delay dari injecti uang itu ke sistem kalau di Amerika katanya 14 bulan. Kalau di sini biasannya 4 bulan sudah kelihatan paling lambat ya," tuturnya kepada wartawan di Kantor Pusat Dirjen Pajak, Selasa, 16 September. 

Dia menyampaikan pada tahun 2021, ketika Pemerintah mulai menginjeksi likuiditas ke sistem, dampaknya sudah mulai terlihat dalam waktu setengah hingga satu bulan sudah mulai kelihatan arah kredit yang positif. 

Sebab itu, Purbaya optimistis dalam waktu yang tidak terlalu lama, perekonomian nasional akan mulai tumbuh. 

Purbaya menegaskan, penempatan dana sebesar Rp200 triliun di himpunan bank milik negara (Himbara) akan memberikan dampak positif yang luas terhadap perekonomian nasional.

Menurut Purbaya, dana tambahan tersebut dapat mendorong sistem perbankan bekerja lebih aktif dalam menyalurkan kredit.

“Kalau kita lihat dari pengalaman tahun 2021 sama waktu itu juga kreditnya masih lemah kan. Waktu itu pemerintah nambah uang ke sistem kreditnya bisa tumbuh juga,” ujarnya

Ia menyampaikan dengan bertambahnya dana ke dalam sistem perbankan, likuiditas otomatis meningkat dan ketika likuiditas meningkat, sehingga perbankan bisa menurunkan suku bunga simpanan. 

Menurutnya, hal ini menyebabkan masyarakat yang sebelumnya senang menyimpan uang di bank karena bunganya tinggi, mulai beralih membelanjakan uangnya ketika bunga simpanan menurun. 

Selain itu, Purbaya menyampaikan bahwa permintaan (demand) di pasar akan meningkat, dan perusahaan-perusahaan yang semula enggan meminjam uang karena tingginya bunga, akan mulai berani mengakses kredit karena dana di bank lebih tersedia dan bunga lebih rendah.

"Tapi dengan adanya uang itu mereka menjadi berani minjem uang di bank. Artinya sisi supply and demand  akan tumbuh berbarengan,” kata Purbaya.

Menurutnya, hal inilah tujuan dari kebijakan yang didorong bukan sekadar menambah uang di sistem secara berlebihan, melainkan menambahkan likuiditas pada tingkat yang terukur dan aman.

Purbaya memperkirakan, pertumbuhan base money (uang primer) di atas dua digit sudah cukup untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, tanpa menyebabkan overheating atau inflasi yang berlebihan karena lonjakan permintaan (demand-pull inflation).

"Jadi harusnya dengan injek seperti itu perekonomian akan berjalan," jelasnya. 

Purbaya menyampaikan, pihaknya ingin mendorong agar sistem ekonomi bergerak seperti memberi bahan bakar agar mesin berjalan. 

"Saya paksa sistem bekerja dengan saya kasih bahan bakar yang kalau mereka gak pakai mereka harus bayar ke saya. Jadi ini sebetulnya prinsip dasar dari monetary policy," jelasnya. 

Menanggapi kekhawatiran terkait potensi inflasi, Purbaya menilai hal tersebut belum menjadi ancaman dalam waktu dekat, selama ekonomi nasional masih berada dalam kondisi lemah, dana yang disuntikkan akan terserap oleh sistem keuangan.

Dia menambahkan, inflasi, baru kemungkinan muncul apabila pertumbuhan ekonomi sudah berada di atas kisaran 6,5 hingga 6,7 persen.

“Sebagian orang bilang kalau uang di inject sistem akan menimbulkan inflasi. Iya mungkin kalau jangka panjang dan uangnya kebanyakan. Ini kan kita kemarin lesu ekonominya dengan adanya itu pasti akan diserap sistem, dan belum akan menimbulkan inflasi sampai mungkin beberapa tahun ke depan sampai pertumbuhan ekonomi kita di atas 6.5-6.7 persen," ujarnya.