Besok Bendungan Raksasa Ethiopia Beroperasi, Jadi Penantian Janda 7 Anak Pemilik Rumah Belum Dialiri Listrik

JAKARTA - Besok menjadi sebuah penantian panjang Fanuse Adete, satu dari banyak penduduk Ethiopia yang berharap rumahnya diterangi lampu dan bisa memakai peralatan sederhana bersumber dari aliran listrik.

Janda 7 anak ini tinggal di Distrik Menabichu, hanya berjarak 10 km dari ibu kota Ethiopia, Addis Ababa. Saat ini, perempuan berusia 38 tahun tersebut hanya mengandalkan lampu minyak tanah dan lilin untuk menerangi gubuknya yang berdinding lumpur di malam hari.

“Sebelumnya, kehidupan sehari-hari kami bergantung pada lampu minyak tanah dan arang, yang menimbulkan tantangan signifikan. Kami mengangkut kayu bakar ke pasar, menjualnya untuk membeli minyak tanah dan roti untuk anak-anak kami. Namun, dengan selesainya bendungan, seluruh masyarakat kami kini bahagia,” ujarnya, sembari memasak air menggunakan kayu bakar untuk membuat kopi khas Ethiopia, dikutip dari AP. 

Ethiopia akan meresmikan Bendungan Grand Renaissance Ethiopia di sepanjang Sungai Nil Biru besok Selasa 8 September waktu setempat. Bendungan ini diperkirakan akan menghasilkan lebih dari 5.000 megawatt, menggandakan produksi listrik Ethiopia saat ini, yang sebagian akan diekspor ke negara-negara tetangga.

Bendungan tersebut, yang pembangunannya dimulai pada tahun 2011, telah menimbulkan kekhawatiran dari negara-negara tetangga, Mesir dan Sudan, mengenai potensi penurunan muka air di hilir.

Meskipun telah diadakan pertemuan untuk membahas pembagian air Sungai Nil Biru, negara-negara yang berpotensi terdampak tetap keberatan. Mesir misalnya, menyebut Bendungan Grand Renaissance berisiko tinggi menyebabkan kekeringan di hilir.

Namun, Ethiopia bersikeras bahwa bendungan yang menjulang tinggi itu tidak hanya akan menguntungkan lebih dari 100 juta penduduknya, tetapi juga negara-negara tetangganya, dan melihatnya sebagai peluang untuk menjadi pengekspor listrik terkemuka di Afrika.

Menteri Air Ethiopia, Habtamu Itefa, menegaskan bahwa negaranya tidak berniat merugikan negara-negara tetangga mana pun.

“Jadi, langkah ke depan adalah: mari kita bekerja sama untuk mendapatkan lebih banyak investasi. Mari kita bergandengan tangan untuk mengusulkan lebih banyak proyek yang dapat menguntungkan kita semua, di mana pun lokasinya. Proyek ini dapat diperluas ke negara-negara di Cekungan Sungai Nil—Uganda, Tanzania, Rwanda, Kongo, Sudan Selatan, Kenya, Etiopia, dan bahkan Mesir,” ujar Itefa.

Para peneliti air di hilir Mesir mengatakan, bendungan tersebut telah mengurangi pasokan air yang diterima negaranya. Mereka pun mendorong Pemerintah Mesir untuk mencari solusi jangka pendek seperti mengurangi konsumsi tahunan dan mendaur ulang air irigasi.

“Mesir mampu mengatasi kekurangan ini melalui Bendungan Tinggi Mesir, yang memiliki cadangan air yang digunakan untuk menggantikan air yang hilang akibat GERD. Namun, kita tidak selalu dapat mengandalkan cadangan ini untuk pasokan air,” kata Abbas Sharaky, profesor geologi dan sumber daya air dari Universitas Kairo.

Ilustrasi bendungan. (T L-Unsplash)

Sementara peneliti air di Sudan mengatakan, selama adanya bendungan, intensitas banjir musiman di negaranya berkurang. Namun, mereka tetap memperingatkan bahwa pelepasan air yang tidak terkoordinasi dari bendungan dapat menyebabkan banjir mendadak atau periode kemarau yang panjang.

Namun Itefa mengatakan bahwa sejauh ini, ketinggian air yang tercatat di hilir selama musim kemarau "tiga hingga empat kali lipat dari yang mereka dapatkan sebelum bendungan."

"Ini berarti, dengan mengorbankan bendungan yang kita bangun, mereka dapat memiliki lahan irigasi mereka. Tiga hingga empat kali lipat, mereka dapat meningkatkannya, karena kita menyediakan lebih banyak air selama bulan-bulan kemarau. Ini merupakan berkah bagi mereka," ujar Itefa.

Yacob Arsano, pengajar politik hidro di Cekungan Nil dari Universitas Addis Ababa mengatakan, Ethiopia "sangat berhati-hati" dalam desain dan perencanaan bendungan untuk memastikan air mengalir ke hilir sepanjang tahun.

"Mesir terus menerima air. Ethiopia terus mengirimkan air. Jadi itulah fakta yang tersisa dan bagaimana mengatur penggunaan sumber daya air bersama tersebut bergantung pada kedua belah pihak. Semua negara di hulu dan hilir perlu duduk bersama dengan baik dan bijaksana," ujar Arsano.

Bagi masyarakat Ethiopia, upaya peningkatan pasokan listrik untuk mendorong pembangunan merupakan kabar baik. Amakelech Debalke Gebre-Giorgis, seorang ibu 2 anak di Addis Ababa, sangat menantikannya.

“Kami ingin melihat lebih banyak pembangunan, dan kami ingin melihat lebih banyak listrik menjadi bagian dari kehidupan kami sehari-hari, dan kami semua sangat antusias,” ujar Giorgis.