Dampak Pemadaman Windows, Pendapatan CrowdStrike Masih Lemah di Q3 Tahun Ini
JAKARTA – CrowdStrike, perusahaan keamanan siber yang sempat membuat gangguan besar di Windows, memproyeksikan pendapatan yang masih rendah pada kuartal ketiga tahun ini.
Rendahnya pendapatan kuartal kali ini masih berkaitan dengan masalah yang terjadi tahun lalu. Perusahaan tersebut masih harus memberikan sejumlah insentif kepada pelanggan sebagai bentuk pembayaran ganti rugi.
Melansir dari Reuters, CrowdStrike mengakui bahwa program insentif tersebut akan berdampak pada pendapatan perusahaan. Mereka memperkirakan kerugian pendapatan antara 10 juta dolar AS (Rp163,6 miliar) hingga 15 juta dolar AS (Rp245,4 miliar).
Kerugian tersebut diyakini akan berlanjut hingga akhir tahun fiskal. Prospek yang kurang menjanjikan ini juga berdampak pada saham perusahaan tersebut. Saham CrowdStrike diketahui sempat turun hampir 3 pesen dalam perdagangan pasca-pasar.
Kepala Keuangan CrowdStrike Burt Podbere menyatakan bahwa perusahaan masih harus melakukan pembayaran tunai sekitar 51 juta dolar AS (Rp834 miliar) di kuartal ketiga. Pembayaran ini juga berhubungan dengan pemadaman tahun lalu.
Baca juga:
Pada Juli lalu, CrowdStrike sempat melumpuhkan aktivitas sejumlah perusahaan, termasuk maskapai penerbangan seperti Delta. Hal ini terjadi karena gagalnya tes software yang perusahaan itu lakukan.
Akibatnya, sekitar 8,5 juta perangkat komputer berbasis Windows tidak berfungsi dan hanya menampilkan layar Blue Screen Of Death. Kerugian akibat kegagalan ini diperkirakan lebih dari Rp88 triliun.
Meski masih mengalami kerugian, CrowdStrike memperkirakan laba per saham yang lebih tinggi dari ekspektasi. Proyeksi laba per saham yang disesuaikan berada di antara 93 sen hingga 95 sen, melampaui estimasi analis sebesar 91 sen.