Di Tengah Maraknya AI, BSSN Sebut Phising Tetap Mendominasi Serangan Siber
JAKARTA - Seiring dengan perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang semakin massif di dunia, termasuk Indonesia, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) tidak melihat adanya pergeseran tren serangan siber di Tanah Air.
Deputi Bidang Keamanan Siber dan Sandi Perekonomian Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Slamet Aji Pamungkas, menegaskan bahwa phising masih menjadi salah satu bentuk serangan siber paling dominan di Indonesia.
"Jadi yang kemarin terjadi itu tetep ada ya, phising itu salah satu yang paling banyak. Karena phising itu kan termasuk yang paling gampang," kata Slamet di sela-sela acara ITSEC Security Summit 2025 pada Selasa, 26 Agustus.
Ia menjelaskan, serangan siber dapat dibagi menjadi dua jenis, yakni serangan teknis dan sosial. Serangan teknis meliputi ransomware, serangan Distributed Denial of Service (DDoS), dan bentuk gangguan sistem lainnya.
Sementara serangan sosial lebih berfokus pada manipulasi masyarakat, seperti menyebarkan informasi palsu atau konten yang memecah belah. Sehingga menurutnya, kehadiran AI justru memperparah hal tersebut.
"Dengan AI itu semakin susah kita membedakan mana yang berita palsu, mana yang berita benar," tambah Slamet.
Baca juga:
Nah, untuk menghadapi persoalan tersebut, Slamet menyebutkan bahwa BSSN bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) telah menyediakan fasilitas pengecekan fakta bagi masyarakat.
"Sebetulnya baik di BSSN maupun Komdigi menyediakan satu, semacam fasilitasi untuk masyarakat melakukan pengecekan apakah berita itu benar atau tidak," tandasnya.
Dengan demikian, ia menekankan pentingnya kewaspadaan publik serta kolaborasi antara pemerintah, industri, dan masyarakat dalam membangun ketahanan menghadapi lanskap ancaman siber yang kian kompleks.