Cegah Kerugian, Bapanas Ingatkan Jangan Tanam Komoditas Tanpa Pasar
JAKARTA – Kepala Badan Pangan Nasional (NFA) Arief Prasetyo Adi menegaskan arah pembangunan pangan nasional harus berbasis kebutuhan nyata pasar. Menurutnya, produksi pangan yang tidak memiliki pasar hanya akan menimbulkan kerugian. Hal ini ia kemukakan saat menghadiri Pembekalan dan Pelepasan Tim Ekspedisi Patriot di Jakarta, Minggu, 24 Agustus.
"Ke depan, ketika membangun daerah, jangan menanam sesuatu yang tidak ada pasarnya. Potensi yang ada harus dihubungkan dengan market. Misalnya, jika potensinya padi atau jagung, maka lahan, irigasi, benih, pascapanen, penyimpanan, hingga distribusi harus disiapkan secara utuh dalam satu paket," ujar Arief dalam keterangannya.
Arief mencontohkan keberhasilan program transmigrasi era Presiden Soeharto yang memberdayakan keluarga transmigran mengelola lahan produktif. Di Papua, misalnya, transmigran mampu mengembangkan pertanian lokal seperti semangka dan sayuran untuk memenuhi kebutuhan pasar sekitar.
"Saya pernah menyaksikan langsung bagaimana transmigran di Timika mengembangkan pertanian lokal, dari semangka hingga sayur-mayur, yang kemudian dipasok untuk kebutuhan sekitar. Ini bukti bahwa kemandirian pangan bisa dimulai dari daerah. Salah satunya dengan penguatan transmigrasi yang produktif," ujarnya.
"Dulu saat saya masih bekerja di sana, diminta cari sumber pemasok pangan. Jadi karena saya hanya kebagian sekitar 120 kontainer sebulan, maka saya harus mengutamakan local source. Jadi memang local source harus diutamakan untuk penuhi kebutuhan konsumsi kita," tambah Arief.
Dalam kesempatan itu, Arief mendorong 2.000 civitas akademika yang tergabung dalam Tim Ekspedisi Patriot untuk serius melakukan riset dan pemetaan ekonomi di 154 kawasan transmigrasi. Hasilnya diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan dalam negeri sekaligus mendukung visi Presiden Prabowo Subianto mewujudkan swasembada pangan.
Baca juga:
Menurutnya, pangan strategis seperti beras, jagung, kedelai, daging, telur, dan bawang harus dikuasai negara. Ia menyebut saat ini sebagian besar kebutuhan pangan nasional sudah dipenuhi dari produksi lokal, dengan rasio produksi terhadap konsumsi melebihi 100 persen untuk beberapa komoditas, seperti cabai rawit (172 persen), cabai besar (171 persen), bawang merah (115 persen), daging ayam ras (110 persen), jagung (106 persen), telur ayam ras (105 persen), beras (101 persen), dan minyak goreng (100 persen).
Meski demikian, Indonesia masih bergantung pada impor untuk daging ruminansia, gula konsumsi, bawang putih, dan kedelai. Kata Arief, impor dilakukan secara selektif agar tidak merugikan petani lokal.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya diversifikasi pangan mengingat konsumsi masyarakat Indonesia masih bertumpu pada beras dan minyak. Pemerintah melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) mendorong masyarakat memperluas konsumsi umbi-umbian dan kacang-kacangan sekaligus membuka peluang produksi pangan lokal yang lebih variatif.