Gubernur Sulteng Minta Pertambangan di Morowali Utara Terdampak Banjir Bandang Dihentikan
SULTENG - Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng) Anwar Hafid meminta aktivitas pertambangan di Desa Molino, Kecamatan Petasia Timur, Kabupaten Morowali Utara (Morut) dihentikan sementara menyusul adanya musibah banjir bandang yang menerjang desa tersebut pada Rabu dini hari.
Pernyataan tersebut ia sampaikan saat melakukan kunjungan ke lokasi banjir. Gubernur Anwar pun meminta agar pihak perusahaan bertanggung jawab penuh terhadap dampak yang ditimbulkan.
“Semua aktivitas tambang saya minta dihentikan sampai perusahaan benar-benar bertanggung jawab atas bencana yang terjadi. Jangan sampai masyarakat yang menanggung kerugian," katanya di Morowali Utara, Rabu, disitat Antara.
Menurut keterangan warga, banjir bandang dipicu jebolnya jalan hauling, dibangun khusus untuk mengangkut material tambang milik PT Bumanik di sekitar Jembatan 6 yang tidak mampu menahan derasnya air hujan. Luapan air bercampur lumpur itu menghantam pemukiman, merendam jalan utama desa, dan menyebabkan kerusakan parah.
Gubernur Anwar menegaskan masyarakat tidak boleh terus menjadi korban akibat aktivitas tambang yang mengabaikan kelestarian lingkungan.
Baca juga:
- Ditentang Israel-AS, Lebanon Tolak Penarikan Pasukan Perdamaian PBB UNIFIL dari Negaranya
- Balas Hinaan Israel, Australia: Kekuatan Bukan dari Berapa Banyak Anak-anak Dibiarkan Netanyahu Kelaparan
- 21 Orang Tewas usai Hujan Deras Guyur Pakistan, Umumnya Akibat Tersengat Listrik
- 76 Orang Tewas dalam Kecelakaan Maut Bus di Afganistan
Ia memastikan pemerintah provinsi bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan aparat setempat telah turun menangani kondisi darurat serta mendesak perusahaan tidak lepas dari tanggung jawabnya.
Gubernur juga berkoordinasi dengan camat, aparat desa, dan masyarakat setempat untuk mempercepat penanganan pascabencana.
Ia meminta seluruh pihak membantu warga terdampak, memastikan akses jalan kembali normal, serta memenuhi kebutuhan mendesak masyarakat.
Berdasarkan data BPBD Sulteng, sebanyak 12 kepala keluarga (KK) atau 48 jiwa mengungsi akibat banjir bandang tersebut, yang di antaranya ada tiga bayi dan tiga warga lansia. Sementara dua unit rumah warga mengalami kerusakan berat.