Mendagri Tito Karnavian Tegur Pasha Ungu Imbas Rambut Pirang dalam Memori Hari Ini, 31 Juli 2020
JAKARTA - Memori hari ini, lima tahun yang lalu, 31 Juli 2020, Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tito Karnavian tegur Wakil Wali Kota Palu, Sigit Purnomo Syamsuddin Said (Pasha Ungu) imbas rambut pirang. Tito menegaskan pekerjaan sebagai pejabat negara harus majukan urusan etik, bukan gaya.
Sebelumnya, Pasha Ungu dikenal sebagai musisi yang banting setir ke dunia politik. Kondisi itu membuat Pasha kerap terbawa-bawa jiwa musisi. Penampilan Pasha –utamanya model rambut kerap dianggap nyentrik dan kontroversial sebagai pejabat.
Karier Pasha bersama band Ungu mentereng. Mereka mampu menjelma jadi salah satu band idola anak muda Indonesia. Lagu-lagunya banyak diputar di mana-mana. Panggilan untuk konser pun bejibun. Narasi itu membawa popularitas yang besar.
Seiring perjalanan waktu, Pasha yang notabene vokalis Ungu bak vakum dari industri hiburan Indonesia. Ia kemudian mencoba banting setir ke dunia baru: politik. Ia menatap langkah menjadi Wakil Wali Kota Palu mendampingi Hidayat dan berhasil pada 2016.
Namun, bukan berarti dunia politik tak membuat sorot kamera ke Pasha berhenti. Eksistensi Pasha sebagai pejabat kerap mendapatkan sorotan lebih. Alih-alih karena prestasi, sorotan kamera tak lain dari gaya nyentrik yang diadaptasikan Pasha dalam kehidupannya sebagai pejabat.
Baca juga:
- Kisah Dedi Mulyadi Larang Karya Wisata Sejak Jadi Bupati Purwakarta
- MUI Dukung Pemerintah Gunakan Dana Haji untuk Pembangunan Infrastruktur dalam Sejarah Hari Ini, 30 Juli 2017
- Mengenang Kwik Kian Gie: Ekonom yang Menolak Blok Cepu Dikelola Asing
- Ratu Atut Resmi Diberhentikan dari Jabatan Gubernur Banten dalam Sejarah Hari Ini, 29 Juli 2015
Gaya rambut Pasha jadi yang paling banyak disorot. Pasha pernah menerapkan gaya rambut skin fade dan dikuncir ke belakang. Gaya itu membuat Pasha jadi pusat pemberitaan. Bukan cuma di sekitar Palu tapi seantero Indonesia.
Pasha pun tak lantas berhenti. Ia kemudian mencoba gaya baru. Ia mengecat rambutnya jadi pirang. Kondisi itu membuat Pasha dikecam. Pasha adalah pejabat negara. Namun, etikanya dianggap tak mencerminkan seorang pejabat yang memegang teguh etika dan tradisi.
Pasha memang tak melanggar Undang-Undang, tapi ia melanggar urusan etik.
"Pada prinsipnya tidak ada niat, tidak ada maksud untuk melecehkan kelembagaan, tidak ada, seakan-akan Pasha ini kok tidak tahu aturan ya nggak lah. Kami ini masih tahu lah batas-batas di mana kita juga harus memberikan performance yang baik sebagai kepala daerah.”
"Kalau tidak biasa ya saya kira saya bisa terima juga sih ya memang wajar saya tidak melihat ada. Jarang atau bahkan barang kali tidak pernah ada kepala daerah yang berambut kuning atau tiba-tiba berambut merah, biru, hijau dan sebagainya," ungkap Pasha sebagaimana dikutip laman 30 Juli 2020.
Masalah gaya rambut pirang Pasha kemudian sampai ke telingga Tito Karnavian. Mendagri itu menegur Pasha imbas gaya rambut pirangnya pada 31 Juli 2020. Pasha dimintanya memahami kode etik sebagai seorang pejabat negara.
Tito pun memahami Pasha punya jiwa seniman. Suatu hal yang membuat Pasha butuh ruang berekspresi. Namun, bukan dalam hal gaya rambut. Kreativitas Pasha diminta disalurkan dalam bidang yang lainnya.
"Saya paham mungkin beliau (Pasha) dari latar belakang seni, jiwa beliau itu. Tapi kan beliau juga harus bisa menempatkan antara sebagai seniman dengan sebagai birokrat yang memiliki kode etik, kultur tersendiri sebagai birokrat.”
"Saya mengharapkan Mas Pasha juga jiwa birokratnya sekarang lebih kental. Jiwa senimannya nggak harus hilang, tidak. Tapi kan tidak harus artinya dengan cara mengubah penampilan rambut," ujar Tito sebagaimana dikutip laman detik.com, 31 Juli 2020.