China-Australia Sepakat Tingkatkan Perdagangan Bilateral
JAKARTA - Presiden China Xi Jinping dan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menunjukkan keinginan untuk meningkatkan perdagangan bilateral di tengah kebijakan tarif tinggi oleh presiden AS Donald Trump.
Dalam pertemuan dengan Albanese di Balai Agung Rakyat, China pada Selasa, 15 Juli, Xi memuji membaiknya hubungan China-Australia, dengan mengatakan hubungan mereka telah bangkit dari "kemunduran dan berbalik arah, dan membawa manfaat nyata" bagi kedua bangsa.
Xi juga mengatakan sedang "mencari titik temu sambil berbagi perbedaan" yang melayani kepentingan mendasar kedua negara, sementara Albanese menekankan pendekatan tersebut telah menghasilkan "manfaat yang sangat positif" bagi kedua negara.
Dalam peringatan terselubung atas kebijakan tarif Trump, Xi menekankan perlunya semua negara bekerja sama untuk menegakkan "keadilan dan kesetaraan, multilateralisme, dan perdagangan bebas" dalam menghadapi "situasi internasional yang berubah dan kacau," kata Kementerian Luar Negeri China dilansir ANTARA dari Kyodo.
Menyambut kemajuan dalam perjanjian perdagangan bebas bilateral, yang mulai berlaku pada 2015, Albanese berjanji Australia akan "tetap menjadi pendukung kuat perdagangan bebas dan adil," menurut kantornya.
Setelah pertemuan tersebut, Albanese mengatakan kepada wartawan, dia sependapat dengan Xi dialog "harus menjadi inti hubungan kedua negara."
Keduanya juga membahas kemitraan ekonomi dan menjajaki kerja sama di masa mendatang di berbagai bidang seperti dekarbonisasi.
Baca juga:
- Putin Tak Terpengaruh Ancaman Trump, Terus Berperang dengan Ukraina
- Eropa Siap Beli Senjata AS untuk Ukraina, tapi Butuh Detail dari Skema Trump
- PM Israel Netanyahu di Bawah Tekanan Politik Setelah Partai UTJ Keluar Koalisi
- Prancis Pangkas Anggaran Sampai 40 Miliar Euro, PM Bayrou Beri Paparan ke Partai Oposisi
PM Australia juga menyatakan keprihatinannya atas latihan militer China dengan peluru tajam yang dilakukan di perairan dekat Australia awal tahun ini tanpa pemberitahuan sebelumnya yang memadai, meskipun China disebut tidak melanggar aturan dalam hukum internasional.
Albanese telah melakukan perjalanan selama sepekan ke Tiongkok bersama delegasi bisnis hingga Jumat, yang mencakup kunjungan ke Shanghai.
Ia akan melanjutkan perjalanan ke Chengdu di Provinsi Sichuan barat daya setelah kunjungannya ke Beijing.