Bukan Sekadar Logam: Tarif Tembaga Trump Bisa Bikin Harga Mobil Listrik Melesat Tinggi
JAKARTA – Kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menjadi sorotan tajam di pasar global. Setelah serangkaian bea masuk pada baja, aluminium, serta mobil dan suku cadang otomotif, kini giliran tembaga yang menjadi target. Ancaman tarif 50 persen pada impor tembaga asing yang mulai diberlakukan 1 Agustus mendatang dikhawatirkan akan memicu kenaikan harga ribuan dolar pada setiap unit kendaraan baru, baik yang diimpor maupun diproduksi di dalam negeri AS.
Trump melalui akun Truth Social miliknya @realDonaldTrump, Kamis ini, 10 Juli mengatakan keputusan tarif tinggi tembaga ini berdasarkan pertimbangan keamanan nasional.
Diketahui, tembaga kini adalah logam strategis merupakan komponen utama senjata modern mulai dari drone dan radar hingga rudal, tembaga juga menjadi sumber daya bagi sistem komunikasi, elektronik, dan energi.
Selain itu, kendaraan listrik menggunakan tembaga 2,5 hingga 4 kali lipat lebih banyak daripada mobil konvensional. Tembaga terdapat pada motor, baterai, kabel, dan pengisi daya.
Paul Eisenstein dari Autoblog, melaporkan bahwa jika ancaman tarif ini benar-benar direalisasikan, pembeli bisa merogoh kocek lebih dalam ratusan, bahkan ribuan dolar, untuk setiap kendaraan baru baik konvensional maupun mobil listrik. Tembaga merupakan bahan baku esensial dalam berbagai komponen otomotif, mulai dari kabel harness, motor kursi elektrik, jendela, dan spion, hingga radio, alternator, dan kipas pendingin. Bahkan, kendaraan listrik yang semakin populer saat ini membutuhkan bermil-mil kabel tembaga.
Baca juga:
Dampak Berantai Tarif Tembaga
Tembaga adalah elemen yang sangat umum dalam masyarakat modern dan sebagian besar pasokannya diimpor. Departemen Perdagangan AS mencatat nilai impor tembaga mencapai sekitar 17 miliar dolar AS tahun lalu. Meskipun beberapa logam eksotis untuk elektronik berasal dari China, Chile adalah pemasok tembaga terbesar bagi AS, dengan nilai pengiriman mencapai 6 miliar dolar AS pada tahun 2024. Ketergantungan ini membuat AS sangat rentan terhadap kebijakan tarif yang akan datang.
Kenaikan biaya bahan baku ini akan membebani produsen otomotif secara signifikan, yang pada akhirnya akan diteruskan kepada konsumen. Kondisi ini memaksa pembeli untuk mempertimbangkan kembali pilihan kendaraan mereka, bahkan mungkin beralih dari mobil baru ke kendaraan bekas.