Presiden Trump Bilang 'Kebijakan Anti-Amerika BRICS' akan Menyebabkan Tarif Tambahan 10 Persen
JAKARTA - Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Hari Minggu mengatakan, negara-negara yang menyelaraskan diri dengan "kebijakan Anti-Amerika" BRICS, akan dikenakan tarif tambahan 10 persen.
"Setiap Negara yang menyelaraskan diri dengan kebijakan Anti-Amerika BRICS, akan dikenakan Tarif TAMBAHAN 10%. Tidak akan ada pengecualian untuk kebijakan ini. Terima kasih atas perhatian Anda terhadap masalah ini!" tulis Presiden Trump dalam unggahan di Truth Social, melansir Reuters 7 Juli.
Kendati demikian, Presiden Trump tidak mengklarifikasi atau memperluas referensi "kebijakan Anti-Amerika" dalam unggahannya.
Diketahui, BRICS tengah menggelar KTT di Rio de Janeiro pada 6-7 Juli. Presiden RI Prabowo Subianto hadir dalam pertemuan ini, setelah Indonesia diterima sebagai anggota penuh pada Januari 2025.
Dalam pernyataan bersama pada Hari Minggu, para pemimpin yang hadir mendukung rencana untuk menguji coba inisiatif Jaminan Multilateral BRICS dalam New Development Bank kelompok tersebut, guna menurunkan biaya pembiayaan dan meningkatkan investasi di negara-negara anggota, sebagaimana pertama kali dilaporkan oleh Reuters minggu lalu.
Tahun lalu, BRICS mengatakan tengah mempersiapkan langkah besar dalam sistem pembayaran internasional, guna menyediakan opsi yang lebih mandiri untuk mengurangi ketergantungan sistem pembayaran yang berbasis di negara Barat, seperti SWIFT, yang didominasi oleh dolar AS.
Pada Bulan Desember, Trump yang ketika itu berstatus presiden terpilih mengancam akan mengenakan tarif 100 persen terhadap negara-negara BRICS jika mereka tidak membatalkan rencana untuk menggunakan mata uang alternatif selain dolar AS.
"Gagasan negara-negara BRICS berusaha untuk menjauh dari Dolar, sementara kita hanya berdiam diri dan mengawasi, sudah BERLALU," tulis Trump di Truth Social.
"Kita memerlukan komitmen dari negara-negara ini bahwa mereka tidak akan menciptakan Mata Uang BRICS yang baru, atau mendukung Mata Uang lain untuk menggantikan Mata Uang Dolar AS yang perkasa," kata Trump.
Trump melanjutkan, bila BRICS meneruskan rencana tersebut, negara-negara tersebut akan menghadapi tarif 100 persen, serta harus mengucapkan "selamat tinggal pada penjualan berbagai produk mereka ke wilayah perekonomian AS yang luar biasa."
Dia menekankan, negara mana pun yang berupaya menggantikan dolar AS dalam perdagangan internasional akan "mengucapkan selamat tinggal kepada Amerika".
Merespons itu, Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Alexander Pankin mengatakan, BRICS sebenarnya sedang mengerjakan sistem pembayaran, alih-alih membuat mata uang internasional baru, dikutip dari RIA.
Ancaman pengenaan bea masuk impor 100 persen pada negara-negara yang coba melemahkan dolar yang diutarakan Presiden terpilih Amerika Serikat Donald Trump, tidak menghentikan pengerjaan sistem pembayaran kelompok ekonomi BRICS.
"Tentu saja, itu akan terus berlanjut," katanya, mengacu pada pengerjaan sistem yang direncanakan.
Pada Bulan Februari, Presiden Trump mengatakan upaya BRICS untuk melemahkan dolar bisa berdampak serius bagi Amerika dan dunia.
"Itu akan menjadi sesuatu yang mengerikan bagi negara kita. Itu akan buruk bagi dunia. Mereka ingin melemahkan dolar. Enam negara berkumpul. Mereka ingin melemahkan dolar," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih mengutip Sputnik.
Diketahui, BRICS didirikan pada tahun 2009 oleh Brasil, Rusia, India, dan Tiongkok. Blok tersebut kemudian menambahkan Afrika Selatan dan tahun lalu memasukkan Mesir, Ethiopia, Indonesia, Iran, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab sebagai anggota. Ini adalah pertemuan puncak pertama para pemimpin yang menyertakan Indonesia.
Baca juga:
- PM Israel Netanyahu Yakin Presiden Trump Bisa Bantu Kesepakatan Gencatan Senjata Gaza
- Sesi Pertama Perundingan Gencatan Senjata Tidak Langsung Hamas-Israel Berakhir Tanpa Hasil
- Program Pangan Dunia Desak Akses yang Aman dan Gencatan Senjata Permanen di Gaza
- Rusia Tegaskan Kesiapan Membantu Iran Menyelesaikan Permasalahan Program Nuklir
Negara-negara BRICS kini mewakili lebih dari separuh populasi dunia dan 40 persen dari output ekonominya, kata Presiden Lula dalam sambutannya pada Hari Sabtu kepada para pemimpin bisnis yang memperingatkan tentang meningkatnya proteksionisme.
Perluasan BRICS telah menambah bobot diplomatik pada pertemuan tersebut, yang bercita-cita untuk berbicara atas nama negara-negara berkembang di seluruh belahan Bumi Selatan, memperkuat seruan untuk mereformasi lembaga-lembaga global seperti Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Dana Moneter Internasional.
Lebih dari 30 negara telah menyatakan minatnya untuk berpartisipasi dalam BRICS, baik sebagai anggota penuh maupun mitra.