JAKARTA - Negara-negara peserta KTT BRICS pada Hari Senin menepis tuduhan 'anti-Amerika' dari Presiden Donald Trump dengan Presiden Brasil mengatakan dunia tidak membutuhkan seorang kaisar setelah Pemimpin Amerika Serikat mengancam tarif tambahan sebesar 10 persen terhadap blok tersebut.
Ancaman Presiden Trump pada Minggu malam muncul saat Pemerintah AS bersiap untuk menyelesaikan lusinan kesepakatan perdagangan dengan berbagai negara sebelum batas waktu 9 Juli untuk penerapan "tarif timbal balik" yang signifikan.
Di akhir KTT BRICS di Rio de Janeiro, Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva saat ditanya oleh wartawan tentang ancaman tarif Trump menjawab: "Dunia telah berubah. Kami tidak menginginkan seorang kaisar," dikutip dari Reuters 8 Juli.
"Ini adalah sekumpulan negara yang ingin menemukan cara lain untuk mengatur dunia dari perspektif ekonomi," katanya tentang blok tersebut.
"Saya pikir itulah sebabnya BRICS membuat orang tidak nyaman," tandas Presiden Lula.
Belakangan, sumber yang mengetahui soal tarif tambahan mengatakan, Pemerintahan Presiden Trump tidak bermaksud untuk segera mengenakan tarif tambahan 10 persen terhadap negara-negara BRICS, seperti yang diancamkan, tetapi akan melanjutkan jika masing-masing negara mengambil kebijakan yang dianggap "anti-Amerika."
Pada Bulan Februari, Presiden Trump memperingatkan BRICS akan menghadapi "tarif 100 persen" jika mereka mencoba melemahkan peran dolar AS dalam perdagangan global. Kepresidenan BRICS di bawah Brasil telah menarik kembali upaya untuk memajukan mata uang bersama bagi kelompok tersebut yang diusulkan beberapa anggota tahun lalu.
Namun, Presiden Lula mengulangi pandangannya pada Hari Senin, perdagangan global membutuhkan alternatif untuk dolar AS.
"Dunia perlu menemukan cara agar hubungan perdagangan kita tidak harus melalui dolar," kata Presiden Lula kepada wartawan di akhir pertemuan puncak BRICS di Rio de Janeiro.
"Jelas, kita harus bertanggung jawab untuk melakukannya dengan hati-hati. Bank sentral kita harus membahasnya dengan bank sentral dari negara lain," urainya.
"Itu adalah sesuatu yang terjadi secara bertahap hingga terkonsolidasi," kata Presiden Lula.
Anggota BRICS lainnya juga menepis ancaman Trump dengan lebih halus.
Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa mengatakan kepada wartawan, kelompok itu tidak ingin bersaing dengan kekuatan lain, menyatakan keyakinannya untuk mencapai kesepakatan perdagangan dengan Negeri Paman Sam.
"Tarif tidak boleh digunakan sebagai alat pemaksaan dan tekanan," kata Mao Ning, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok di Beijing.
BRICS menganjurkan "kerja sama yang saling menguntungkan," tambahnya, dan "tidak menargetkan negara mana pun."
Sedangkan seorang juru bicara Kremlin mengatakan, kerja sama Rusia dengan BRICS didasarkan pada "pandangan dunia yang sama" dan "tidak akan pernah diarahkan terhadap negara ketiga."
India tidak segera memberikan tanggapan resmi kepada Trump.
Diketahui, banyak anggota BRICS dan banyak negara mitra kelompok itu sangat bergantung pada perdagangan dengan Amerika Serikat.
Menteri Koordinator Bidang Ekonomi Indonesia, anggota baru BRICS, Airlangga Hartarto yang berada di Brasil mendampingi Presiden Prabowo Subianto, akan terbang ke Amerika Serikat Hari Senin waktu setempat untuk mengikuti pembicaraan tarif. Diketahui, Indonesia dalam pengumuman tarif Trump Hari Senin dikenakan besaran 32 persen.
Malaysia, yang hadir sebagai negara mitra dan dikenai tarif 24 persen yang kemudian ditangguhkan, mengatakan mereka mempertahankan kebijakan ekonomi yang independen dan tidak berfokus pada penyelarasan ideologis.
Dengan forum-forum seperti kelompok ekonomi utama G7 dan G20 yang terhambat oleh perpecahan dan pendekatan "America First" Presiden Trump, kelompok BRICS telah menampilkan dirinya sebagai surga bagi diplomasi multilateral di tengah konflik kekerasan dan perang dagang.
Dalam pernyataan bersama yang dirilis pada Minggu sore, para pemimpin di KTT tersebut mengutuk pemboman baru-baru ini terhadap negara anggota Iran dan memperingatkan kenaikan tarif mengancam perdagangan global, melanjutkan kritik terselubungnya terhadap kebijakan tarif Presiden Trump.
Beberapa jam kemudian, Presiden Trump memperingatkan akan menghukum negara-negara yang ingin bergabung dengan kelompok tersebut.
Diketahui, BRICS didirikan pada tahun 2009 oleh Brasil, Rusia, India, dan Tiongkok. Blok tersebut kemudian menambahkan Afrika Selatan dan tahun lalu memasukkan Mesir, Ethiopia, Indonesia, Iran dan Uni Emirat Arab sebagai anggota.
BACA JUGA:
Arab Saudi secara resmi menerima undangan untuk menjadi anggota penuh, tetapi berpartisipasi sebagai negara mitra.
Negara-negara BRICS kini mewakili lebih dari separuh populasi dunia dan 40 persen dari output ekonominya, kata Presiden Lula dalam sambutannya pada Hari Sabtu kepada para pemimpin bisnis yang memperingatkan tentang meningkatnya proteksionisme.
Dan, lebih dari 30 negara telah menyatakan minatnya untuk berpartisipasi dalam BRICS, baik sebagai anggota penuh maupun mitra.