JAKARTA - Sesi pertama perundingan gencatan senjata tidak langsung antara Hamas dan Israel di Qatar berakhir tanpa hasil, kata dua sumber Palestina yang mengetahui masalah tersebut pada Senin pagi, seraya menambahkan delegasi Israel tidak memiliki mandat yang cukup untuk mencapai kesepakatan dengan Hamas.
Perundingan dilanjutkan pada Minggu, menjelang kunjungan ketiga Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke Gedung Putih, Amerika Serikat sejak Presiden Donald Trump kembali berkuasa hampir enam bulan lalu.
"Setelah sesi pertama perundingan tidak langsung di Doha, delegasi Israel tidak cukup berwenang untuk mencapai kesepakatan dengan Hamas, karena mereka (delegasi Israel) tidak memiliki kewenangan nyata," kata sumber tersebut kepada Reuters seperti dikutip 7 Juli.
Sebelumnya, PM Netanyahu mengatakan sebelum keberangkatannya ke Washington, negosiator Israel yang mengambil bagian dalam pembicaraan gencatan senjata memiliki instruksi yang jelas untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata berdasarkan persyaratan yang telah diterima Israel.
Pada Sabtu malam, massa berkumpul di alun-alun umum di Tel Aviv dekat markas besar Kementerian Pertahanan Israel untuk menyerukan kesepakatan gencatan senjata dan pemulangan sekitar 50 sandera yang masih ditawan di Gaza. Para demonstran melambaikan bendera Israel, meneriakkan yel-yel, dan membawa poster berisi foto para sandera.
Diketahui, konflik terbaru di Gaza pecah usai kelompok militan Palestina menyerang wilayah selatan Israel pada 7 Oktober 2023, menyebabkan 1.200 orang tewas dan 251 lainnya disandera menurut perhitungan Israel.
Itu dibalas Israel dengan melakukan blokade, serangan udara hingga operasi militer di wilayah Jalur Gaza.
Israel dan kelompok militan Palestina menyepakati gencatan senjata serta pertukaran sandera dan tahanan pada 19 Januari.
Pada 2 Maret, Israel kembali melakukan blokade total terhadap Gaza dengan dalih menekan kelompok militan Palestina untuk menyepakati gencatan senjata usulan Amerika Serikat dan pertukaran sandera-tahanan.
BACA JUGA:
Seiring berakhirnya kesepakatan gencatan senjata, Israel kembali menggelar operasi militer di Gaza pada 18 Maret.
Sekitar 20 sandera yang tersisa diyakini masih hidup. Mayoritas sandera awal telah dibebaskan melalui negosiasi diplomatik, meskipun militer Israel juga telah membebaskan beberapa sandera.
Hingga kemarin, korban tewas Palestina di Jalur Gaza sejak konflik terbaru pecah telah mencapai 57.418 jiwa dan 136.261 lainnya luka-luka, menurut sumber medis di Gaza, dikutip dari WAFA.