AS Veto Rancangan Resolusi Dewan Keamanan PBB yang Mendesak Gencatan Senjata di Gaza

JAKARTA - Amerika Serikat memveto rancangan resolusi Dewan Keamanan PBB yang mendesak gencatan senjata di Jalur Gaza dalam pertemuan di Markas PBB, New York, Amerika Serikat Hari Rabu waktu setempat, saat jumlah korban tewas di wilayah kantong Palestina itu terus bertambah.

AS menggunakan hak veto sebagai anggota tetap saat dewan menggelar pemungutan suara mengenai rancangan resolusi Dewan Keamanan PBB yang menuntut gencatan senjata segera, tanpa syarat dan permanen antara Israel dengan kelompok militan Hamas di Jalur Gaza, Palestina; akses tanpa hambatan untuk penyaluran bantuan di wilayah kantong tersebut; serta pembebasan seluruh sandera yang masih ditahan.

Rancangan resolusi tersebut diajukan oleh anggota tidak tetap dewan, Aljazair, Denmark, Yunani, Guyana, Pakistan, Panama, Korea Selatan, Sierra Leone, Slovenia dan Somalia, dikutip dari UN News, Kamis 5 Juni.

Di sisi lain, kecuali AS, seluruh anggota tetap dewan, China, Prancis, Rusia dan Inggris mendukung rancangan resolusi gencatan senjata tersebut.

Berbicara menjelang pemungutan suara, Duta Besar AS untuk PBB Dorothy Shea menggambarkan rancangan resolusi tersebut sebagai "tidak dapat diterima".

"Penentangan AS terhadap resolusi ini seharusnya tidak mengejutkan, tidak dapat diterima karena apa yang dikatakannya, tidak dapat diterima karena apa yang tidak dikatakannya, dan tidak dapat diterima karena cara penyampaiannya," ujar Shea.

"Amerika Serikat telah menjelaskan," lanjutnya, "kami tidak akan mendukung tindakan apa pun yang gagal mengutuk Hamas dan tidak menyerukan Hamas untuk melucuti senjata dan meninggalkan Gaza."

Ia menambahkan, Hamas telah menolak sejumlah usulan gencatan senjata, termasuk satu usulan pada akhir pekan yang akan memberikan jalan untuk mengakhiri konflik dan membebaskan para sandera yang tersisa.

"Kami tidak dapat membiarkan Dewan Keamanan menghargai keteguhan hati Hamas," kata Shea.

"Hamas dan teroris lainnya tidak boleh memiliki masa depan di Gaza. Seperti yang dikatakan Menlu (Marco) Rubio: 'Jika bara api masih ada, ia akan kembali menyala menjadi api'," tandasnya.

Diketahui, konflik terbaru di Gaza pecah pada 7 Oktober, usai kelompok militan Palestina pimpinan Hamas menyerang wilayah selatan Israel, menyebabkan 1.200 orang tewas dan 251 lainnya disandera menurut perhitungan Israel, dikutip dari Reuters.

Itu dibalas Israel dengan melakukan blokade, serangan udara, hingga menggelar operasi militer di wilayah Jalur Gaza.

Pada 19 Januari, kedua negara memberlakukan kesepakatan gencatan senjata dan melakukan pertukaran sandera-tahanan, setelah kesepakatan yang dicapai beberapa hari sebelumnya antara Hamas dengan Israel lewat perantara Mesir, Qatar dan Amerika Serikat.

Israel kembali melakukan blokade total seluruh bantuan pada 2 Maret, mengatakan itu dilakukan untuk menekan kelompok Hamas menerima usul gencatan senjata dan membebaskan seluruh sandera di Jalur Gaza.

Terpisah, sumber kesehatan di Gaza pada Hari Rabu mengonfirmasi, jumlah korban tewas Palestina di Gaza sejak konflik terbaru pecah telah mencapai 54.607 orang, mayoritas anak-anak dan perempuan, sementara korban luka-luka mencapai 125.341 orang, dikutip dari WAFA.