Bagikan:

JAKARTA - Dunia menyaksikan kengerian di Palestina hari demi hari, kata Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Kemanusiaan dan Koordinator Bantuan Darurat Tom Fletcher, saat Amerika Serikat kembali memveto rancangan resolusi Dewan Keamanan PBB yang mendesak gencatan senjata segara di Jalur Gaza.

AS menggunakan hak veto sebagai anggota tetap saat dewan menggelar pemungutan suara mengenai rancangan resolusi Dewan Keamanan PBB yang menuntut gencatan senjata segera, tanpa syarat dan permanen antara Israel dengan kelompok militan Hamas di Jalur Gaza, Palestina; akses tanpa hambatan untuk penyaluran bantuan di wilayah kantong tersebut; serta pembebasan seluruh sandera yang masih ditahan.

Rancangan resolusi tersebut diajukan oleh seluruh anggota tidak tetap dewan, Aljazair, Denmark, Yunani, Guyana, Pakistan, Panama, Korea Selatan, Sierra Leone, Slovenia dan Somalia.

Bersama dengan China, Prancis, Rusia, serta Inggris, seluruh pengusul rancangan resolusi memberikan dukungan dalam pemungutan suara di Markas Besar PBB, New York, Amerika Serikat Hari Rabu waktu setempat.

Sementara AS, yang juga anggota tetap dewan, memilih menggunakan hak veto.

"Dunia menyaksikan, hari demi hari, pemandangan mengerikan dari warga Palestina yang ditembak, terluka atau terbunuh di Gaza saat mencoba makan," kata kepala bantuan PBB Tom Fletcher sebelumnya, melansir UN News, Kamis 5 Juni..

Sementara itu, Duta Besar Inggris untuk PBB Barbara Woodward mengkritik keputusan Pemerintah Israel untuk memperluas operasi militernya di Gaza dan sangat membatasi bantuan kemanusiaan sebagai "tidak dapat dibenarkan, tidak proporsional, dan kontraproduktif," seperti dikutip dari Reuters.

Terpisah, Israel sendiri telah menolak seruan untuk gencatan senjata tanpa syarat atau permanen, dengan mengatakan Hamas tidak dapat tinggal di Gaza.

Duta Besar Israel untuk PBB Danny Danon mengatakan kepada anggota dewan yang memberikan suara mendukung rancangan tersebut: "Anda memilih peredaan dan penyerahan. Anda memilih jalan yang tidak mengarah pada perdamaian. Hanya menuju lebih banyak teror."

November tahun lalu, AS juga memveto rancangan resolusi DK PBB yang mendesak gencatan senjata segara di Jalur Gaza. Seperti rancangan resolusi kali ini, rancangan resolusi ketika itu juga diajukan oleh seluruh anggota tidak tetap dewan. Itu menjadi kali kelima AS memblokir resolusi yang menyerukan gencatan senjata Gaza sejak dimulainya eskalasi pada Oktober 2023, dikutip dari TASS.

Diketahui, mekanisme pemungutan suara resolusi DK PBB memerlukan minimal sembilan suara mendukung, dari total 15 anggota dewan tersebut, tanpa adanya veto dari salah satu anggota tetap dewan yang terdiri dari Amerika Serikat, Inggris, China, Rusia dan Prancis.

Konflik terbaru di Gaza pecah pada 7 Oktober, usai kelompok militan Palestina pimpinan Hamas menyerang wilayah selatan Israel, menyebabkan 1.200 orang tewas dan 251 lainnya disandera menurut perhitungan Israel.

Itu dibalas Israel dengan melakukan blokade, serangan udara, hingga menggelar operasi militer di wilayah Jalur Gaza.

Pada 19 Januari, kedua negara memberlakukan kesepakatan gencatan senjata dan melakukan pertukaran sandera-tahanan, setelah kesepakatan yang dicapai beberapa hari sebelumnya antara Hamas dengan Israel lewat perantara Mesir, Qatar dan Amerika Serikat.

Israel kembali melakukan blokade total seluruh bantuan pada 2 Maret, mengatakan itu dilakukan untuk menekan kelompok Hamas menerima usul gencatan senjata dan membebaskan seluruh sandera di Jalur Gaza.

Terpisah, sumber kesehatan di Gaza pada Hari Rabu mengonfirmasi, jumlah korban tewas Palestina di Gaza sejak konflik terbaru pecah telah mencapai 54.607 orang, mayoritas anak-anak dan perempuan, sementara korban luka-luka mencapai 125.341 orang, dikutip dari WAFA.