Bukan karena Air, Mengapa Uranus Berwarna Biru Kehijauan?

JAKARTA – Uranus terkenal sebagai planet terdingin di tata surya dengan suhu atmosfer yang mencapai minus 224 derajat celcius. Sebagai planet terjauh kedua dari matahari, Uranus memiliki lapisan yang dipenuhi es.

Lapisan es ini terdiri dari beberapa unsur, termasuk air. Sebagian besar massa Uranus pun terdiri dari air dalam bentuk padat maupun cair. Meski dipercaya memiliki air, warna planet Uranus berbeda jauh dengan warna air yang ada di Bumi.

Jika melihat dari gambar yang diabadikan NASA, Uranus berwarna biru kehijauan, bukan biru gelap. Meski ada unsur kebiruan, warna biru pada Uranus bukan disebabkan oleh air, melainkan karena zat metana.

Dilansir dari How to Geek, Metana menyerap lebih banyak cahaya merah daripada hijau atau biru. Zat tersebut juga menyerap cahaya inframerah sehingga Uranus menjadi planet dengan gas rumah kaca yang sangat kuat.

Penyerapan warna merah ini memengaruhi warna yang dipantulkan oleh Uranus. Cahaya di planet tersebut hanya dapat memantulkan kembali warna hijau dan biru sehingga membentuk ciri khas warna biru kehijauan.

Kehadiran metana mungkin sedikit membingungkan karena beberapa ilmuwan menyatakan bahwa tidak ada mikroorganisme di Uranus. Padahal, metana di Bumi dihasilkan oleh makhluk hidup seperti pencernaan sapi, rayap, dan mikroorganisme.

Hasil penelitian terkini menunjukkan bahwa metana di Uranus terbentuk dari gabungan molekul sederhana seperti karbon monoksida dan gas hidrogen. Dua molekul ini mungkin tergabung di awal pembentukan tata surya, proses yang dikenal dengagn nama metanasi.

Metana juga dapat terbentuk saat karbon mengambil atom hidrogen. Proses apu pun yang terjadi di Uranus menyebabkan metana bertahan sebagai debu es. Pada akhirnya, zat ini mengendap di planet Uranus.

Hingga saat ini, para ilmuwan masih meneliti bagaimana gas metana dapat mengendap di Uranus tanpa adanya kehidupan. NASA juga masih mengamati data yang dikumpulkan oleh Voyager 1 dan 2 selama puluhan tahun di luar angkasa.