Angkat Tradisi Seksualitas dalam Budaya Jawa, Menbud Fadli Zon Apresiasi Film Gowok: Kamasutra Jawa

JAKARTA — Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menghadiri penayangan khusus film Gowok: Kamasutra Jawa di Studio XXI Plaza Senayan, Jakarta, Senin, 2 Juni. Film terbaru garapan Hanung Bramantyo ini diproduksi oleh MVP Pictures dan Dapur Film, mengangkat tradisi budaya Jawa yang nyaris terlupakan: profesi gowok.

Gowok adalah profesi perempuan pada era 1900-an yang bertugas mengedukasi calon pengantin pria soal seluk-beluk hubungan intim, agar mampu membahagiakan istrinya saat malam pertama. Hanya keluarga bangsawan dan kaya yang mampu “menyekolahkan” putranya kepada seorang gowok.

“Film ini menarik karena mengangkat tradisi yang hampir punah. Ini bagian dari mozaik budaya Indonesia yang layak diangkat ke layar lebar. Sinema seperti ini penting untuk memperkaya narasi kebudayaan kita,” ujar Menbud Fadli Zon usai menonton film tersebut.

Ia menambahkan, film Gowok tidak hanya menyentuh aspek historis, tetapi juga menampilkan kekayaan narasi tentang seksualitas, relasi laki-laki dan perempuan, serta peran sosial yang pernah eksis di tengah masyarakat Jawa. Fadli mengingatkan pentingnya klasifikasi umur dalam penayangan film ini.

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, juga hadir dan memberikan apresiasi serupa. “Film ini bisa membuka kesadaran publik akan sejarah yang kerap disembunyikan. Kita perlu mengenal akar budaya kita sendiri, termasuk aspek-aspek yang tabu,” katanya.

Film ini terinspirasi dari naskah klasik Serat Centhini, karya sastra Jawa yang membahas banyak aspek kehidupan, termasuk pendidikan seksual. Lewat pendekatan sinematik, film ini menyoroti dinamika dan sisi tersembunyi profesi gowok yang dulu dihormati.

Dalam Gowok: Kamasutra Jawa, Raihaanun memerankan Nyai Ratri, sang gowok utama, bersama jajaran bintang seperti Reza Rahadian (sebagai Kamajaya), Lola Amaria, Devano Danendra, Djenar Maesa Ayu, Slamet Rahardjo, dan lainnya.

Penayangan khusus ini juga dihadiri oleh Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Kreatif Yovie Widianto, Dirjen Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Ahmad Mahendra, serta Direktur Film, Musik, dan Seni Syaifullah Agam.

Sebelum tayang di bioskop Indonesia mulai 5 Juni 2025, film ini lebih dulu diputar di ajang International Film Festival Rotterdam (IFFR) 2025.