Kemenperin Akselerasi Pembangunan Ekosistem Industri Bambu Terintegrasi via Program Bamboo Academy

JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan tengah mengakselerasi pembangunan ekosistem industri bambu terintegrasi melalui program Bamboo Academy, seperti di Kabuyutan Bambu Muara Beres, Bogor, Jawa Barat.

"Industri bambu memiliki prospek besar dan keunikan tersendiri. Bambu bisa tumbuh di mana saja, namun tetap diperlukan teknik budi daya dan pemilihan jenis tepat agar menghasilkan bahan baku berkualitas," ujar Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita seperti dikutip dari keterangan tertulisnya, Selasa, 27 Mei.

Menurut Agus, bambu bukan hanya material fungsional, melainkan juga sarat akan nilai-nilai filosofi yang dalam.

Hal ini menjadikan bambu sebagai salah satu sumber daya alam yang sangat potensial dikembangkan sebagai basis industri berdaya saing tinggi, terutama di sektor kerajinan, furnitur, konstruksi hingga bioindustri.

Kemenperin juga telah menjalankan berbagai program strategis untuk mendukung pengembangan industri bambu nasional.

Beberapa upayanya antara lain, fasilitasi desain produk, bantuan peralatan produksi bagi pelaku industri kecil dan menengah (IKM) serta pelatihan sumber daya manusia melalui Bamboo Academy

"Kami mendukung penuh terhadap pengembangan ekosistem industri bambu nasional melalui inisiatif Bamboo Academy," katanya.

Program ini diharapkan menjadi lokomotif pembangunan industri bambu yang terintegrasi dan berkelanjutan, sehingga akan menopang pertumbuhan ekonomi nasional.

Meski begitu, Agus juga menyampaikan, pembangunan industri bambu memiliki tantangan tidak ringan.

"Sama seperti membangun sektor industri lainnya, kami menghadapi persoalan terkait bahan baku, kualitas dan standardisasi produk. Tapi tantangan ini harus kami hadapi bersama dengan inovasi dan produktivitas berkelanjutan," ucap Agus.

Untuk itu, Kemenperin berkomitmen mengawal seluruh tahapan pengembangan industri bambu secara menyeluruh dan berkelanjutan.

Sinergi dengan para pemangku kepentingan, mulai dari komunitas bambu, lembaga riset hingga sektor industri menjadi kunci dalam mewujudkan ekosistem industri bambu tangguh dan berdaya saing global.

Terlebih lagi, Indonesia memiliki potensi sumber daya bambu sangat besar dan tersebar di berbagai daerah.

Namun, pemanfaatannya perlu lebih dioptimalkan agar komoditas bambu ini bisa menjadi produk bernilai tambah tinggi.

Indonesia merupakan salah satu negara dengan keanekaragaman jenis bambu terbanyak di dunia.

Terdapat 162 jenis bambu di Indonesia, 124 di antaranya merupakan spesies asli Indonesia.

Dari sisi kawasan, Agus bilang, Indonesia menduduki peringkat keenam dunia dalam hal luasan hutan bambu, yaitu mencapai 1,85 juta hektare.

Menurut dia, ini merupakan kekuatan ekosistem sangat luar biasa dan merupakan aset ekologis dan ekonomi yang tidak boleh diabaikan.

"Untuk itulah, penting bagi saya untuk melakukan kunjungan di Kabuyutan Bambu Muara Beres ini sebagai bagian dari upaya pemerintah membangun sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan yang memiliki misi dalam pembangunan industri bambu nasional," tutur Agus.

Di samping itu, Kemenperin juga mendukung penuh peran dari Bamboo Academy sebagai motor penggerak lahirnya SDM unggul dan inovatif dalam industri bambu nasional.

Program ini mencakup pelatihan teknis, penguatan rantai pasok dan pengembangan produk bernilai tinggi agar industri bambu mampu bersaing secara global.

Sementara itu, Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika menjelaskan, Kemenperin juga melakukan kurasi dan fasilitasi mitra dampingan bagi calon peserta Bamboo Academy yang tersebar di sektor hulu, antara dan hilir.

Program Bamboo Academy menargetkan pelatihan diikuti sebanyak 250 orang dalam waktu lima tahun. Para peserta ini berasal dari Banten, Jawa Barat, Yogyakarta, Bali dan Nusa Tenggara Timur.

Adapun pelaksanaannya melalui program Master Bambu, dengan tujuan menghasilkan lulusan master hulu, antara dan hilir. Master bambu juga mampu melatih mitra bambu lainnya (Training of Trainer - ToT) sebanyak 50 orang.

Lulusan Master Bambu akan dapat menjadi profesi Farmers Service Team dan Youth Program Entrepreneur.

Selanjutnya, terdapat program Inkubasi Industri Berbasis Bambu. Para lulusan akan menghasilkan berbagai produk berbasis bambu sesuai kebutuhan perusahaan.

"Untuk memperkuat ekosistem ini, Kemenperin juga mendukung pembentukan Pusat Logistik Industri Bambu yang berlokasi di wilayah sumber bahan baku. Pusat logistik ini akan menjadi simpul distribusi bahan baku dan produk setengah jadi yang siap digunakan industri hilir," jelasnya.

Melalui pendekatan ekosistem hulu-hilir solid serta didukung pelatihan dan logistik terintegrasi, industri bambu Indonesia akan mampu tumbuh sebagai kekuatan ekonomi baru ramah lingkungan dan berdaya saing global.