Bagikan:

JAKARTA - Di tengah maraknya tren hidup berkelanjutan dan kembali ke alam, bambu mulai dilirik bukan hanya sebagai tanaman liar di pinggir sungai, melainkan sebagai simbol gaya hidup ramah lingkungan.

Dari rumah, fashion hingga kuliner, bambu menjadi bagian dari cerita baru tentang bagaimana kita bisa hidup lebih selaras dengan bumi.

Indonesia ternyata menyimpan harta hijau yang sering terlupakan. Menurut Rika Anggraini, Direktur Komunikasi dan Kemitraan Yayasan Sehati, Indonesia adalah negara keempat di dunia dalam luasan hutan bambu yaitu mencapai kurang lebih 2,1 juta hektar.

"Dari 1.642 jenis bambu di dunia, 172 jenis ada di Indonesia. Dari jumlah itu, 134 adalah origin spesies, 38 introduksi, dan 109 di antaranya endemik.” ujar Rika, saat ditemui di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta pada Kamis, 18 September 2025.

Artinya banyak jenis bambu yang tidak bisa ditemukan di belahan dunia lain, hanya tumbuh di tanah air. Fakta ini membuat bambu Indonesia punya nilai istimewa, tidak hanya sebagai material, tetapi juga sebagai identitas budaya.

Jika dulu bambu hanya diasosiasikan dengan angklung atau dinding anyaman, kini pamornya merambah gaya hidup modern.

“Batang bambu bisa dijual gelondongan atau diolah menjadi aneka produk rumah tangga, bangunan, mebelair, alat musik, hingga tusuk gigi dan dupa. Akar bambu dapat menjadi hiasan, tunas muda untuk rebung, dan daunnya dimanfaatkan untuk pakan ternak, teh, maupun pupuk," ucap Rika Anggraini.

Bayangkan dari dapur hingga ruang tamu, dari minuman teh herbal hingga desain interior minimalis, bambu hadir dalam wujud yang beragam. Tidak berlebihan jika menyebut bambu sebagai tanaman serba bisa. Namun di balik potensi luar biasa itu, ada ancaman nyata.

“Bambu di Indonesia kini mengalami ancaman karena tingginya eksploitasi tanpa adanya budidaya. Selain itu, alih fungsi lahan membuat kawasan hutan bambu semakin berkurang. Jika terus dibiarkan, maka akan mengganggu keseimbangan ekosistem," tutur Rika.

Padahal, satu rumpun bambu saja mampu menyerap hingga 5.000 liter air. Kehilangannya tentu akan berdampak pada kualitas lingkungan, bahkan pada ketersediaan sumber air bagi masyarakat.

Indonesia memiliki banyak jenis bambu yang bernilai ekonomi, seperti Bambusa vulgarisDendrocalamus asperGigantochloa apus, hingga Schizostachyum blumei. Jenis-jenis ini banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari maupun industri kreatif.

Bagi pecinta desain interior, bambu hitam atau Gigantochloa atroviolacea sering dijadikan material eksklusif. Sementara bambu betung (Dendrocalamus asper) sangat populer sebagai bahan konstruksi dan makanan (rebungnya).

Kisah inspiratif datang dari Dusun Bulaksalak, Cangkringan, DI Yogyakarta. Kawasan ini sempat rusak akibat tambang pasir. Namun masyarakat setempat berinisiatif melakukan rehabilitasi menggunakan bambu. Kini, lebih dari 38 jenis bambu tumbuh di sana, mata air bermunculan, dan 20 jenis burung kembali datang.

Bukan sekadar penghijauan, warga bahkan menjadikan bambu sebagai sumber ekonomi kreatif lewat pasar seni budaya “SOR Pring”. Dari sinilah kita melihat bambu bisa menjadi gaya hidup, bukan hanya bahan bangunan.

Gerakan pelestarian bambu juga digarap serius oleh Yayasan KEHATI. Sejak Kongres Bambu Dunia tahun 1995, KEHATI aktif mendukung program konservasi. Pada 2012, mereka bahkan bekerja sama dengan Bank CIMB Niaga untuk mendukung pelestarian bambu berbasis masyarakat di Jawa Barat, Bali, NTB, dan NTT.

Programnya meliputi pembibitan, penanaman, dan perawatan bambu betung, hitam, hingga tabah.

“Tujuan akhirnya adalah menjadikan bambu sebagai penggerak ekonomi masyarakat berbasis budaya agar masyarakat berdaya," jelas Rika.

Bagaimana dengan negara lain? Menurut Putu Juli Ardika, Plt Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian di Filipina, pemerintah sudah membentuk Philippine Bamboo Industry Council sejak 2010 untuk fokus pada konservasi dan industri. Sementara itu, Vietnam punya lebih dari 1.500 perusahaan pengolahan bambu, dengan program besar reforestasi termasuk bambu.

“Di Indonesia, hampir semua bambu berasal dari hutan rakyat dengan pengelolaan berbasis rumah tangga dan komunitas. Pemerintah mendukung melalui program 1.000 Desa Bambu, akses bibit, pelatihan, hingga pasar.” lanjutnya.

Artinya Indonesia perlu meniru keseriusan negara tetangga dalam menjadikan bambu sebagai bagian dari strategi nasional.

Lebih dari sekadar konservasi, bambu juga sudah masuk ke dunia kreatif dan desain global.

“Bambu adalah bahan baku industri yang dapat digunakan untuk konstruksi, furnitur, kerajinan, alat musik, pangan fungsional, hingga bioenergi.” tegas Putu Juli Ardika.

Di Bali, ekosistem usaha bambu berkembang pesat. Ada IBUKU Studio yang dikenal internasional sebagai pionir desain arsitektur bambu, Bamboou! sebagai pusat edukasi desain, hingga Bamboo Pure yang mengolah bambu secara profesional.

Ini membuktikan, bambu bukan hanya cerita desa, tetapi juga tren gaya hidup modern, dari resort mewah hingga produk lifestyle ramah lingkungan.