AS Dapat Informasi Intelijen Terkait Kemungkinan Persiapan Israel Menyerang Fasilitas Nuklir Iran
JAKARTA - Amerika Serikat memperelah intelijen yang menunjukkan Israel tengah mempersiapkan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran, saat Pemerintahan Presiden Donald Trump tengah mengupayakan kesepakatan diplomatik dengan Teheran, beberapa pejabat AS yang mengetahui intelijen terbaru tersebut mengatakan kepada CNN.
Serangan semacam itu akan menjadi pemutusan hubungan yang berani dengan Presiden Donald Trump, kata pejabat AS.
Serangan itu juga berisiko memicu konflik regional yang lebih luas di Timur Tengah, sesuatu yang telah AS upayakan untuk dihindari sejak perang di Gaza memicu ketegangan yang dimulai pada tahun 2023.
Para pejabat memperingatkan, belum jelas apakah para Pemimpin Israel telah membuat keputusan akhir, pada kenyataannya ada ketidaksepakatan yang mendalam dalam Pemerintahan AS tentang kemungkinan Israel pada akhirnya akan bertindak.
Namun, "peluang Israel menyerang fasilitas nuklir Iran telah meningkat secara signifikan dalam beberapa bulan terakhir," kata orang lain yang mengetahui intelijen AS tentang masalah tersebut, dikutip dari CNN 21 Mei.
"Dan prospek kesepakatan AS-Iran yang dinegosiasikan Presiden Trump yang tidak menghapus semua uranium Iran membuat peluang terjadinya serangan menjadi lebih besar.”
Meningkatnya kekhawatiran tidak hanya berasal dari pesan publik dan pribadi dari pejabat senior Israel bahwa mereka sedang mempertimbangkan langkah tersebut, tetapi juga dari komunikasi Israel yang disadap dan pengamatan terhadap pergerakan militer Israel yang dapat mengindikasikan serangan yang akan segera terjadi, menurut beberapa sumber yang mengetahui intelijen tersebut.
Di antara persiapan militer yang diamati AS adalah pergerakan amunisi udara dan penyelesaian latihan udara, kata dua sumber tersebut.
Namun, indikator yang sama itu juga bisa jadi merupakan upaya Israel untuk menekan Iran agar meninggalkan prinsip-prinsip utama program nuklirnya dengan memberi sinyal konsekuensi jika tidak melakukannya — menggarisbawahi kompleksitas yang terus berubah yang dihadapi Gedung Putih.
CNN telah meminta komentar dari Dewan Keamanan Nasional dan kantor Perdana Menteri Israel. Kedutaan Besar Israel di Washington tidak memberikan komentar.
Sebelumnya, Presiden Trump secara terbuka mengancam akan melakukan tindakan militer terhadap Iran jika upaya pemerintahannya untuk menegosiasikan kesepakatan nuklir baru guna membatasi atau menghilangkan program nuklir Teheran gagal.
Namun, Presiden Trump juga menetapkan batas waktu berapa lama AS akan terlibat dalam upaya diplomatik.
Dalam sepucuk surat kepada Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada pertengahan Maret, Trump menetapkan batas waktu 60 hari agar upaya tersebut berhasil, menurut sumber yang mengetahui komunikasi tersebut.
Kini, sudah lebih dari 60 hari sejak surat itu disampaikan, dan 38 hari sejak putaran pertama perundingan dimulai.
Hal itu telah menempatkan Israel "di antara batu dan tempat yang sulit," kata Jonathan Panikoff, mantan pejabat intelijen senior yang mengkhususkan diri di wilayah tersebut.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu berada di bawah tekanan untuk menghindari kesepakatan AS-Iran yang dianggap tidak memuaskan oleh Israel, sekaligus tidak membuat Presiden Trump menjauh — yang telah memutuskan hubungan dengan perdana menteri Israel terkait isu-isu keamanan utama di kawasan tersebut.
"Pada akhirnya, pengambilan keputusan Israel akan didasarkan pada penentuan kebijakan dan tindakan AS, dan perjanjian apa yang dicapai atau tidak dicapai Presiden Trump dengan Iran," kata Panikoff, yang menambahkan ia yakin PM Netanyahu akan bersedia mengambil risiko sepenuhnya merusak hubungan dengan Negeri Paman Sam lantaran melancarkan serangan tanpa setidaknya persetujuan diam-diam AS.
Sementara itu, pejabat AS menilai Iran berada dalam posisi militer terlemahnya dalam beberapa dekade, setelah Israel mengebom fasilitas produksi rudal dan pertahanan udaranya pada Bulan Oktober, dikombinasikan dengan ekonomi yang melemah akibat sanksi dan penghancuran proksi regional terkuatnya oleh Israel. Israel.
AS sendiri meningkatkan pengumpulan intelijen untuk bersiap membantu jika para pemimpin Israel memutuskan untuk menyerang, kata seorang pejabat senior AS kepada CNN. Namun, seorang sumber yang mengetahui pemikiran Pemerintahan Trump mengatakan, AS tidak mungkin membantu Israel melakukan serangan terhadap situs nuklir Iran saat ini, kecuali ada provokasi besar oleh Teheran.
Di sisi lain, Israel tidak memiliki kapasitas untuk menghancurkan program nuklir Iran tanpa bantuan Amerika, termasuk pengisian bahan bakar di udara dan bom yang diperlukan untuk menembus fasilitas jauh di bawah tanah, kebutuhan yang juga tercermin dalam laporan intelijen AS sebelumnya, menurut seorang sumber yang mengetahui masalah tersebut.
Seorang sumber Israel mengatakan kepada CNN, Israel akan siap melakukan aksi militer sendiri jika AS menegosiasikan apa yang digambarkan sumber ini sebagai "kesepakatan buruk" dengan Iran yang tidak dapat diterima Israel.
Baca juga:
"Saya pikir kemungkinan besar mereka menyerang untuk mencoba dan membuat kesepakatan itu gagal jika mereka mengira Presiden Trump akan menerima 'kesepakatan yang buruk'," kata sumber lain yang mengetahui intelijen AS.
"Israel tidak malu memberi isyarat itu kepada kami, baik secara publik maupun pribadi," tambahnya.
Penilaian intelijen AS dari Februari menunjukkan Israel dapat menggunakan pesawat militer atau rudal jarak jauh untuk memanfaatkan kemampuan pertahanan udara Iran yang menurun, CNN sebelumnya melaporkan.
Namun penilaian yang sama juga menjelaskan bagaimana serangan semacam itu hanya akan sedikit menghambat program nuklir Iran dan tidak akan menjadi obat mujarab.
"Ini tantangan nyata bagi (PM) Netanyahu," kata Panikoff.