CEO Telegram Ungkap Adanya Upaya Pembungkaman Suara Warga Rumania di Platformnya

JAKARTA – Pendiri Telegram mengungkapkan bahwa pemerintah dari suatu negara berusaha untuk membungkam suara-suara konservatif di Rumania. Upaya ini dilakukan menjelang pemilu putaran kedua.

Rumania kembali memberikan hak suara pada 18 Mei lalu untuk memilih presiden terbaru. Pemungutan suarra ini berhasil digelar setelah pemungutan suara awal dibatalkan sekitar enam bulan lalu. Menurut dugaan, hal ini terjadi karena campur tangan Rusia.

Pavel Durov, Pendiri sekaligus CEO Telegram, menyatakan bahwa pemerintah Eropa Barat berusaha menghubungi tim di kantornya. Meski tidak disebutkan, melansir dari Reuters, pihak yang berusaha membungkam suara konservatif adalah Prancis.

Durov mengatakan bahwa Telegram menolak berbagai upaya pembungkaman. Ia tidak akan membatasi pengguna di Rumania dalam bersuara. Menurut Durov, pembungkaman suara konservatif akan menyalahi aturan kebebasan berbicara.

"Pemerintah Eropa Barat ... menghubungi Telegram, meminta kami untuk membungkam suara-suara konservatif di Rumania," tulis Durov melalui salurannya. "Telegram tidak akan membatasi kebebasan pengguna Rumania atau memblokir saluran politik mereka."

Durov pun menekankan bahwa membungkam pengguna Rumania di media sosial merupayakan tindakan menghancurkan demokrasi. Demi melindungi hak suara warga Rumania, Teleram tidak akan mencampuri urusan pemilu, seperti yang diharapkan pemerintah negara lain.

Tuduhan ini pun ditanggapi langsung oleh kementerian Luar Negeri Prancis. Dalam sebuah postingan di X, sebelumya dikenal sebagai Twitter,  pemerintah Prancis mengatakan bahwa tuduhan pembungkaman ini salah dan tidak benar.

"Tuduhan yang sama sekali tidak berdasar beredar di Telegram dan Twitter (X) mengenai dugaan campur tangan Prancis dalam pemilihan presiden Rumania," kata pemerintah Prancis. "Prancis dengan tegas menolak tuduhan ini."