Gelar Pameran Tunggal di Eropa, Seniman Miranda Pranoto Angkat Rasa Takut akan Keintiman

JAKARTA - Dalam beberapa tahun terakhir, seniman perempuan Indonesia mulai menunjukkan pengaruhnya di panggung seni global. Nama-nama seperti Arahmaiani, Titarubi, dan Eko Nugroho (dalam kolaborasi) telah membawa narasi dan perspektif khas Indonesia ke berbagai galeri dan biennale dunia.

Kini, estafet itu dilanjutkan oleh seniman muda Miranda Pranoto, yang bersiap menggelar pameran tunggal perdananya bertajuk "Intimacy Issues" di Paris, Prancis.

Diselenggarakan pada 5 hingga 11 Juni 2025 di Galerie Le Petite Semaine, pameran ini menggambarkan eksplorasi Miranda terhadap representasi tubuh perempuan berdasarkan pengalaman personal. Sejak awal kariernya, ia konsisten menyuarakan tema tentang persepsi tubuh dan otonomi perempuan melalui karya-karya yang bersifat otobiografis.

Dengan keberanian yang jarang ditemui, Miranda membongkar hal-hal yang sering dianggap tabu, seperti nyeri haid dan kesehatan reproduksi, melalui karya seperti “Opiates For The Cramps.”

Karya-karya Miranda berangkat dari pengalaman nyata yang ia alami mulai dari gangguan makan, dismorfia tubuh, hingga kekerasan dan relasi pribadi yang rumit. Ia juga menyinggung trauma digital seperti kejahatan deepfake, yang mengubah wajah atau tubuh secara digital untuk tujuan manipulatif.

Semua ini dikemas dalam lukisan yang menjadikan kanvas sebagai ruang reflektif, tempat dirinya memproyeksikan luka, ingatan, dan harapan.

Selama dua tahun terakhir, Miranda mempersiapkan seri "Intimacy Issues" yang terdiri dari 15 karya, termasuk lukisan-lukisan awal saat masih menempuh pendidikan di Royal Academy of Art, London. Salah satu karya pembukanya adalah lukisan kaus kaki berbulu simbol awal dari perjalanan penyembuhan yang bersifat personal sekaligus universal.

Gaya ekspresif Miranda memadukan figurasi dengan abstraksi, menghadirkan kebebasan gestural dan kekuatan intuitif yang lepas dari norma-norma estetika sehari-hari.

Ia menyatakan melalui seni, ia mencoba melampaui kontrol sosial atas tubuh perempuan, menghadirkan ruang di mana kebebasan dan penghormatan terhadap keberagaman tubuh dapat dirayakan.

Kurator pameran ini, Francesca Rozzi, menyebut “Intimacy Issues” sebagai perwujudan dari semangat asosiasi MINERVA, yang berfokus pada promosi seniman perempuan dalam ranah seni rupa kontemporer. Bersama Galerie Le Petite Semaine, MINERVA memberikan panggung bagi suara-suara yang menantang narasi dominan tentang feminitas dan representasi tubuh, termasuk dari negara seperti Indonesia yang masih memegang nilai-nilai konservatif.

Menariknya, ini bukan hanya debut internasional Miranda sebagai seniman tunggal, tetapi juga langkah perdana MINERVA dalam mengangkat seniman dari Asia Tenggara. Dengan membawa kisah yang begitu personal dan menggugah, Miranda berharap para pengunjung bisa merasakan kedalaman emosional yang tidak dapat disampaikan melalui layar digital.

“Melukis awalnya adalah pelarian dan teman saya dalam kesepian. Kini, karya saya menjadi suara untuk diri saya sendiri, dan saya merasa sangat terhormat bisa membagikannya secara langsung di Paris,” tutup seniman kelahiran 1999 ini.