Pasar Tunggu Data Arah Kebijakan The Fed, Rupiah Berpotensi Menguat ke Rp16.390 per Dolar AS
JAKARTA - Nilai tukar rupiah pada perdagangan Rabu, 7 Mei diperkirakan akan bergerak menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Untuk diketahui mengutip Bloomberg, pada hari Selasa, 6 Mei, Kurs rupiah spot di tutup naik 0,04 persen ke level Rp16.449 per dolar AS. Sementara itu, kurs rupiah Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) ditutup melemah 0,31 persen ke level harga Rp16.472 per dolar AS.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menyampaikan bank sentral diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tetap pada hari Rabu karena para pembuat kebijakan telah mengindikasikan pendekatan tunggu dan lihat di tengah kekhawatiran tarif.
"Fokus akan tertuju pada komentar dari Ketua Fed Jerome Powell untuk wawasan tentang jalur suku bunga Fed di masa mendatang," ujarnya dalam keterangannya, dikutip Rabu, 7 Mei.
Selain itu, Ibrahim menyampaikan investor sekarang menunggu data neraca perdagangan dan inflasi indeks harga konsumen negara itu, yang dijadwalkan untuk dirilis pada hari Jumat.
Sebelumnya, data indeks manajer pembelian swasta yang dirilis pada hari Selasa menunjukkan sektor jasa Tiongkok tumbuh lebih lambat dari yang diharapkan pada bulan April.
Menurutnya hal ini menyusul PMI manufaktur yang lemah dari minggu lalu, serta data produk domestik bruto yang menunjukkan kontraksi tak terduga dalam ekonomi AS.
Sementara dari dalam negeri, Ibrahim menyampaikan bahwa pasar optimis, konsumsi atau belanja pemerintah akan terus dipercepat dan mitigasi dampak ketidakpastian terus dilakukan, usai ekonomi tumbuh 4,87 persen secara tahunan pada kuartal I/2025.
"Pemerintah terus memperluas cakupan implementasi program prioritas bernilai tambah lebih tinggi seperti Makan Bergizi Gratis (MBG)," ujarnya.
Sebagaimana diketahui, program MBG telah ditambah anggarannya menjadi Rp171 triliun. Sementara realisasinya mulai terjadi percepatan sejak Maret dan mencapai Rp2,3 triliun per April. Sebelumnya dalam dua bulan pertama tahun ini, realisasi hanya mencapai Rp300 miliar.
Selain itu, pemerintah turut memberikan dukungan untuk sektor perumahan melalui insentif perpajakan, termasuk dengan perluasan target perumahan melalui Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) menjadi lebih tinggi dari sebelumnya 220.000.
Adapun, belanja pemerintah memang sempat tertahan akibat efisiensi dan realokasi anggaran yang dilakukan pada awal tahun. Alhasil, belanja K/L tertahan sejak Januari hingga Sri Mulyani membuka blokir anggarannya pada Maret 2025.
Baca juga:
Pada kuartal I/2025, seluruh komponen pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) tumbuh positif kecuali konsumsi pemerintah yang kontraksi 1,38 persen secara tahunan atau year on year (YoY).
Ibrahim menyampaikan dalam menghadapi ketidakpastian global yang berdampak pada ekonomi domestik, perlu dilakukan pemantauan secara berkala dan upaya mitigasi dampak ketidakpastian.
Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif namun ditutup menguat pada perdagangan Rabu, 7 Mei 2025 dalam rentang harga Rp16.390 - Rp16.450 per dolar AS.