Penjualan Mobil Listrik Tesla di Inggris Anjlok 62 Persen tapi Pabrikan Lain Tinggi, Ada Apa Gerangan?

JAKARTA - Kabar kurang sedap datang dari pasar otomotif Inggris. Data terbaru dari kelompok riset New AutoMotive pada Selasa ini, 6 Mei, menunjukkan bahwa penjualan mobil listrik Tesla di Britania Raya mengalami penurunan drastis hingga 62 persen secara tahunan (year-on-year) pada bulan April. Angka ini menjadi yang terendah bagi pabrikan mobil listrik besutan Elon Musk tersebut dalam lebih dari dua tahun terakhir.

Dikutip dari Reuters, penurunan tajam Tesla ini terjadi justru di tengah tren peningkatan permintaan kendaraan listrik (EV) secara keseluruhan di Inggris. 

Data New AutoMotive menunjukkan bahwa pendaftaran mobil listrik secara keseluruhan di Inggris justru meningkat sebesar 6,9 persen pada bulan April. Namun, angka ini melambat dibandingkan bulan sebelumnya, diduga akibat kondisi ekonomi yang lebih luas.

Menariknya, merek-merek lain justru mencatatkan pertumbuhan penjualan EV yang signifikan di Inggris pada bulan April. Volkswagen, misalnya, mengalami lonjakan penjualan mobil listrik sebesar 194 persen dengan 2.314 unit terjual. Bahkan, pabrikan asal China, BYD, mencatat kenaikan penjualan yang fantastis hingga 311 persen dengan 1.419 unit mobil listriknya laku di pasar Inggris.

Sebelumnya, Inggris sempat menjadi "oase" bagi Tesla di tengah tren lesu penjualan di beberapa pasar utama Eropa lainnya. Namun, pada April 2025, Tesla hanya mampu menjual 536 unit mobil baru di Inggris, jauh merosot dibandingkan 1.404 unit pada periode yang sama tahun 2024. Akibatnya, pangsa pasar EV Tesla di Inggris year-to-date kini berada di angka 9,3 persen.

Spekulasi pun bermunculan terkait penyebab anjloknya penjualan ini. Salah satu faktor yang disinyalir menjadi pemicu adalah antisipasi konsumen terhadap model terbaru Tesla Model Y yang telah diperbarui. Situs resmi Tesla di Inggris mengumumkan bahwa perkiraan pengiriman Model Y versi facelift akan dimulai pada bulan Juni mendatang. Namun, masih dibutuhkan waktu beberapa bulan untuk melihat apakah versi terbaru ini mampu menarik kembali minat konsumen.

Selain faktor produk, isu lain yang berpotensi mempengaruhi penjualan Tesla adalah sentimen publik terhadap Elon Musk. Kedekatannya dengan mantan Presiden AS Donald Trump dan pandangannya yang cenderung ke kanan di Eropa memicu sejumlah protes terhadap dirinya dan perusahaan. Bahkan, beberapa waktu terakhir dilaporkan terjadi aksi vandalisme di showroom dan stasiun pengisian daya Tesla di Amerika Serikat dan Eropa.

Setelah laporan penjualan dan keuntungan global kuartal pertama yang mengecewakan, dua pekan lalu Musk menyatakan akan mengurangi waktunya berinteraksi dengan pemerintahan Trump dan lebih fokus mengelola perusahaan.