4 Jenis Penyakit Stroke: Gejala-Gejala dan Cara Menanganinya

YOGYAKARTA - Penyakit stroke merupakan salah satu masalah kesehatan yang menjadi perhatian serius di Indonesia. Berdasarkan data dari Kemenkes dan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), stroke menempati peringkat pertama sebagai penyebab kematian dan disabilitas di tanah air. Ada berbagai jenis penyakit stroke yang penting untuk diketahui.

Stroke terjadi ketika pasokan darah ke otak terganggu, baik karena penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah. Otak manusia membutuhkan aliran darah yang konstan untuk berfungsi dengan baik. Tanpa suplai darah, sel-sel otak bisa rusak dalam hitungan menit. 

Tingginya angka kejadian stroke di Indonesia disebabkan oleh berbagai faktor, seperti pola hidup tidak sehat, kurangnya aktivitas fisik, serta meningkatnya kasus hipertensi dan diabetes. Sebagai wawasan mengenai kesehatan, mari pahami jenis-jenis penyakit stroke serta gejala dan penanganannya. 

Jenis-Jenis Penyakit Stroke

Mengenali jenis-jenis stroke menjadi langkah awal yang sangat penting dalam pencegahan dan penanganan lebih lanjut. Berikut ini beberapa jenis penyakit stroke yang penting untuk Anda pahami:

1. Stroke Iskemik (Ischemic Stroke)

Jenis stroke ini menyumbang sekitar 80% dari seluruh kasus stroke. Stroke iskemik terjadi karena adanya penyumbatan pada pembuluh darah yang memasok darah ke otak. Penyumbatan ini umumnya disebabkan oleh gumpalan darah (trombus) atau timbunan lemak (aterosklerosis) yang menghambat aliran darah.

Stroke iskemik sendiri terdiri dari dua jenis, yaitu trombosis serebral dan emboli serebral. Trombosis serebral terjadi ketika pembekuan darah terbentuk di salah satu arteri utama otak. Emboli serebral disebabkan oleh bekuan darah atau partikel lain yang terbentuk di bagian tubuh lain (biasanya jantung) dan terbawa ke otak.

Berikut ini gejala-gejala stroke iskemik yang perlu Anda tahu:

  • Mati rasa atau kelemahan mendadak di wajah, lengan, atau kaki (terutama di satu sisi tubuh)
  • Gangguan bicara atau pemahaman
  • Gangguan penglihatan
  • Pusing atau kehilangan keseimbangan

Penanganan stroke iskemik harus segera dilakukan dalam waktu kurang dari 4,5 jam sejak gejala muncul. Penanganan bisa dilakukan dengan obat trombolitik untuk melarutkan bekuan darah, serta prosedur seperti trombektomi (pengangkatan gumpalan darah secara mekanis).

2. Stroke Hemoragik (Hemorrhagic Stroke)

Stroke hemoragik terjadi ketika pembuluh darah di otak pecah dan menyebabkan pendarahan. Darah yang keluar merusak jaringan otak dan meningkatkan tekanan di dalam tengkorak, yang bisa berakibat fatal jika tidak segera ditangani.

Penyebab utama stroke hemoragik adalah tekanan darah tinggi yang tidak terkendali, aneurisma otak, cedera kepala, atau gangguan pembekuan darah. Ada dua jenis stroke hemoragik, yaitu pendarahan intraserebral dan pendarahan subarachnoid. 

Perdarahan intraserebral adalah penyakit stroke yang erjadi di dalam jaringan otak itu sendiri. Sementara perdarahan subarachnoid terjadi di ruang antara otak dan selaput pelindungnya, biasanya akibat pecahnya aneurisma.

Berikut ini gejala-gejala stroke hemoragik yang perlu Anda tahu:

  • Sakit kepala hebat mendadak (seperti petir)
  • Mual dan muntah
  • Kehilangan kesadaran
  • Kejang
  • Gangguan penglihatan atau bicara

Penanganan stroke hemoragik bisa dilakukan dengan pemberian obat-obatan untuk mengendalikan tekanan darah dan pendarahan. Selain itu, penanganan juga dapat berupa tindakan bedah untuk menghentikan pendarahan dan mengurangi tekanan di otak.

3. Transient Ischemic Attack (TIA)

Transient Ischemic Attack (TIA) atau sering disebut "stroke ringan" adalah kondisi di mana aliran darah ke otak terganggu sementara. Gejala TIA mirip dengan stroke iskemik, namun biasanya berlangsung hanya beberapa menit hingga maksimal 24 jam, dan tidak menimbulkan kerusakan permanen.

Meskipun tidak menyebabkan kerusakan otak permanen, TIA adalah peringatan serius karena sekitar 1 dari 3 orang yang mengalami TIA akan mengalami stroke lebih berat di kemudian hari.

Berikut ini gejala-gejala stroke TIA yang perlu Anda ketahui:

  • Kelemahan mendadak pada wajah, tangan, atau kaki
  • Kesulitan berbicara
  • Penglihatan kabur atau ganda
  • Pusing atau kehilangan keseimbangan

Setelah serangan TIA, penting untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh agar dapat mengidentifikasi dan mengatasi faktor risikonya, seperti hipertensi, kolesterol tinggi, diabetes, dan gaya hidup tidak sehat.

4. Stroke Mata (Amaurosis Fugax)

Amaurosis fugax atau stroke mata terjadi saat aliran darah menuju arteri di mata terganggu, sehingga memicu gangguan penglihatan yang muncul secara tiba-tiba dan bersifat sementara. Penderita kondisi ini dapat mengalami penglihatan kabur atau kehilangan penglihatan pada salah satu mata. 

Kejadian tersebut sering menjadi indikasi adanya gangguan pembuluh darah yang lebih serius dalam tubuh, seperti adanya emboli yang menyumbat aliran darah ke mata. Stroke mata merupakan kondisi medis yang memerlukan penanganan segera karena dapat menjadi tanda awal dari risiko stroke iskemik atau gangguan vaskular lainnya. 

Penyebabnya beragam, mulai dari emboli, penumpukan plak (aterosklerosis), hingga pelebaran pembuluh darah (aneurisma). Penanganan medis yang cepat sangat penting untuk mencegah munculnya komplikasi serius di kemudian hari.

Demikianlah beberapa jenis penyakit stroke yang penting untuk Anda ketahui. Penyakit stroke merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering dialami banyak masyarakat Indonesia. Pola hidup sehat menjadi kunci utama untuk mencegah penyakit ini. Baca juga gejala stroke yang bisa muncul saat bangun tidur.

Ikuti terus berita terkini dalam negeri dan luar negeri lainnya di VOI. Kami menghadirkan info terbaru dan terupdate nasional maupun internasional.