Penjualan Turun 48 Persen, Ini Strategi Maserati agar Peroleh Keuntungan

JAKARTA - Produsen otomotif premium dari Italia, Maserati kembali mencatatkan penurunan tren penjualan dengan hanya 1.700 unit atau turun sebesar 48 persen pada kuartal pertama tahun ini.

Sebagai gambaran, pabrikan berlogo ‘Trisula’ tersebut memperoleh penjualan sebesar 3.300 unit pada tiga bulan pertama di tahun lalu.

Melansir dari Motor1, Senin, 14 April, tren ini tetap menjadikannya sebagai brand dengan penjualan terendah dari keseluruhan jajaran merek di bawah naungan Stellantis. Dalam satu kalender tahun lalu, Maserati menuntaskan penjualan sebesar 11.300 unit.

Tentu produsen mobil sport mewah ini perlu memutar otak agar bisa bersaing dengan rival lainnya, seperti Ferrari dan Lamborghini.

CEO Maserati, Santo Ficili berencana untuk mengatasi tren buruk ini agar penjualannya tidak merosot secara signifikan. Pria yang menjabat di jajaran tertinggi merek pada Oktober tahun lalu ini akan menata ulang mulai dari segala aspek sehingga diperkirakan pihaknya akan kembali merugi di tahun 2025.

Rencana tersebut menyangkut pembentukan manajemen baru dalam Maserati, memperbaiki hubungan dengan dealer, hingga ditetapkannya pemangkasan biaya produksi atau pengembangan mobil baru.

Pria dari Italia tersebut menilai bahwa tren penjualan Maserati bisa merosot karena kegagalan pemasaran serta belum diberlakukannya pemangkasan harga agar tetap kompetitif.

Tentu perencanaan ini diharapkan dapat membawa angin segar bagi brand dan berpeluang kembali meraih keuntungan untuk tahun 2026 mendatang.

Namun, perencanaan tersebut dapat berubah berkat tarif yang ditetapkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump. Bahkan, Stellantis meminta perusahaan konsultan manajemen McKinsey and Company untuk meneliti masa depan Maserati dan Alfa Romeo, yang memicu kedua merek akan dijual ke perusahaan lainnya