Ratusan Ribu Orang Mengungsi saat Israel Merebut Rafah di ‘Zona Keamanan' Gaza

JAKARTA - Ratusan ribu warga Gaza yang melarikan diri mencari perlindungan pada Kamis ke salah satu pengungsian massal terbesar dalam perang tersebut. Sementara pasukan Israel saat ini maju ke reruntuhan kota Rafah, bagian dari "zona keamanan" yang ingin mereka rebut.

Dilaporkan, pasukan Israel maju ke kota di tepi selatan Gaza yang telah menjadi tempat perlindungan terakhir bagi orang-orang yang melarikan diri dari daerah lain selama sebagian besar perang.

Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan 97 orang tewas dalam serangan Israel dalam 24 jam terakhir, termasuk 20 orang tewas dalam serangan udara sekitar fajar di Shejaia, pinggiran Kota Gaza di utara.

Kemudian pada Kamis, serangan udara Israel menewaskan sedikitnya 27 warga Palestina, termasuk wanita dan anak-anak, di dalam gedung sekolah yang berfungsi sebagai tempat penampungan bagi keluarga-keluarga yang mengungsi di Kota Gaza, kata otoritas kesehatan setempat. Militer Israel mengatakan serangan itu mengenai "teroris" utama Palestina.

Petugas medis mengatakan tiga rudal menghantam gedung sekolah Dar Al-Arqam di lingkungan Tuffah di Kota Gaza.

Militer Israel mengatakan serangan itu mengenai pusat komando yang telah digunakan oleh militan untuk merencanakan dan melaksanakan serangan terhadap warga sipil Israel dan pasukan tentara.

Rafah "sudah hilang, sedang disapu bersih," kata seorang ayah dari tujuh anak di antara ratusan ribu orang yang telah melarikan diri dari Rafah ke Khan Younis, kepada Reuters dilansir Jumat, 4 April.

“Mereka merobohkan rumah-rumah dan properti yang masih berdiri," kata pria yang menolak disebutkan namanya karena takut akan dampak buruk.

Serangan untuk merebut Rafah merupakan eskalasi besar dalam perang, yang dimulai kembali oleh Israel bulan lalu setelah secara efektif membatalkan gencatan senjata yang berlaku sejak Januari.

Di Shejaia di utara, salah satu distrik tempat Israel memerintahkan penduduknya untuk pergi, ratusan penduduk berbondong-bondong keluar pada hari Kamis, beberapa membawa barang-barang mereka sambil berjalan, yang lain naik kereta keledai dan sepeda atau mobil van.

"Saya ingin mati. Biarkan mereka membunuh kami dan membebaskan kami dari kehidupan ini. Kami tidak hidup, kami mati," kata Umm Aaed Bardaa.

Di Khan Younis, tempat beberapa orang tewas akibat serangan.

Adel Abu Fakher sedang memeriksa kerusakan di tendanya mengatakan “tidak ada yang tersisa bagi kami. Kami terbunuh saat sedang tidur," katanya.