Pangan Terkendali, Negara Aman

JAKARTA - Risiko ketegangan geopolitik menghasilkan berbagai ketidakpastian politik dan ekonomi akibat konflik, perubahan kebijakan, dan hubungan diplomatik antarnegara. Sejarah dunia mencatat beberapa ketegangan geopolitik terkadang mengarah pada konflik militer. Beberapa investor, seperti konglomerat Ray Dalio dari Bridgewater, menjelaskan subjek ini lebih dalam. Berikut risiko geopolitik yang meliputi:

Perang dan Konflik: Tindakan militer dan sengketa teritorial dapat mengganggu rantai pasokan global dan memengaruhi harga komoditas, serta biaya pengiriman barang. Periode tersebut juga dapat mendukung saham kedirgantaraan & pertahanan, yang mungkin secara langsung diuntungkan oleh konflik dan meningkatnya belanja modal di seluruh sektor pertahanan.

Perang Dagang: Tarif dan hambatan perdagangan dapat memengaruhi perdagangan internasional, memengaruhi industri yang bergantung pada ekspor dan pertumbuhan ekonomi global. Sejarah menunjukkan bahwa hal semacam ini terjadi berkali-kali, sejak zaman kuno, perang Napoleon hingga saat ini. Secara umum, pasar global dan pedagang tidak menyukai batasan eksternal, seperti peraturan yang mengganggu perdagangan.

Ketidakstabilan Politik: Perubahan pemerintahan, kerusuhan politik, dan perubahan peraturan dapat menciptakan ketidakpastian bagi bisnis dan investor. Selain itu, pergeseran signifikan, yang disebut "perubahan besar" dalam kemitraan ekonomi global dapat memengaruhi pasar.

Sanksi: Sanksi ekonomi yang dijatuhkan oleh satu negara terhadap negara lain dapat membatasi akses ke pasar dan sumber daya. Misalnya, sanksi tersebut dapat memengaruhi teknologi tinggi seperti semikonduktor atau AI dan perusahaan (dan pemasoknya) di baliknya.

Eropa Tingkatkan Pertahanan

Ketidakstabilan geopolitik ini yang menimbulkan kekhawatiran bagi negara-negara di Uni Eropa dan memunculkan usulan dari Komisi Eropa (EC) untuk menguatkan sektor pertahanannya guna memberikan bantuan militer kepada Ukraina. Rencana tersebut mencakup pinjaman pertahanan senilai €150 miliar kepada negara-negara anggota, melonggarkan peraturan untuk mendorong negara-negara membelanjakan lebih banyak dana untuk pertahanan, dan menggunakan sebagian anggaran Uni Eropa untuk investasi pertahanan.

Dilansir dari Forbes, usulan ini muncul pada saat yang kritis, mengingat Perang Rusia-Ukraina yang sedang berlangsung dan hubungan yang tegang dengan Amerika Serikat.

Banyak militer besar Eropa, termasuk Inggris, Prancis, Jerman, dan Polandia, telah melakukan perampingan secara signifikan sejak berakhirnya Perang Dingin. Eropa khawatir dengan agresi Rusia di masa mendatang, mereka kembali membutuhkan persenjataan berat dan artileri, yang telah memainkan peran dominan dalam Perang Rusia-Ukraina. Perlu diketahui, negara-negara di Eropa sangat sedikit perlengkapan dan peralatan perang yang dimiliki. (tabel kepemilikan senjata dan perlengkapan perang)

tabel kepemilikan senjata dan perlengkapan perang, Forbes

Penurunan jumlah kendaraan lapis baja dari tahun 1992 hingga 2022 cukup signifikan tetapi tidak separah penurunan jumlah tank dan howitzer. Memang, Prancis dan Jerman telah memangkas jumlah tank dan howitzer mereka hingga sekitar sepersepuluh dari jumlah mereka pada tahun 1992. Sementara itu, Inggris dan Polandia hanya memiliki sepertiga dari jumlah mereka pada tahun 1992. Secara keseluruhan, keempat negara ini memiliki 1.936 tank dan 834 howitzer pada tahun 2022. Sebagai perbandingan, menurut Oryxspioenkop, sejauh ini dalam perang tersebut, Rusia telah kehilangan 3.786 tank dan 1.347 howitzer dan masih tetap efektif dalam pertempuran.

Pada 2024, pengeluaran pertahanan global mencapai US$ 2,46 triliun, meningkat dari US$$ 2,24 triliun pada tahun sebelumnya. Peningkatan ini mencerminkan komitmen negara-negara di seluruh dunia untuk memperkuat kemampuan pertahanan mereka di tengah situasi geopolitik yang semakin kompleks.

Berdasarkan data dari International Institute of Strategic Studies, Amerika Serikat (AS) menjadi negara dengan anggaran pertahan tertinggi sedunia yakni sebesar US$968 miliar atau sekitar Rp 15.875 triliun atau Rp15,87 kuadriliun (kurs Rp16.400/US$). Peringkat kedua diduduki China dengan anggaran pertahanan sebesar US$235 miliar. Dan diperingkat ketiga diduduki Rusia memiliki anggaran pertahanan terbesar ketiga di dunia, sebesar US$146 miliar, atau 6% dari total pendapatan nasionalnya. 

dok: International Institute of Strategic Studies

Cara Trump Mengangkat Dolar dan Melemahkan Mata Uang di Asia

Pasar negara berkembang dapat menjadi lebih tidak stabil dan sensitif terhadap risiko geopolitik karena ketergantungannya pada investasi asing dan pasar ekspor. Dolar AS yang secara tradisional ‘dijadikan senjata’, yang secara historis mengalami arus masuk yang lebih tinggi selama masa konflik, memberikan tekanan pada mata uang pasar negara berkembang. Selain itu, konflik berpotensi mengganggu perdagangan global, yang berdampak pada ekspor dari negara-negara ekonomi berkembang ke ‘negara-negara ekonomi lama’. Sentimen Wall Street yang melemah dapat menyebabkan reaksi yang signifikan, terkadang bahkan panik, di pasar negara berkembang.

Awal Maret 2025, Utusan Khusus Amerika Serikat (AS), Steve Witkoff, mengajukan proposal perpanjangan gencatan senjata kepada pemerintah Israel dan pemimpin Hamas. Sayangnya proposal tersebut ditolak oleh pemimpin Hamas pada tanggal 18 Maret 2025. Hal ini memmicu perang baru dengan Israel melakukan serangan terhadap Palestina dan Lebanon.

Serangan udara militer Israel pada Minggu (23/3) dilaporkan telah menewaskan 634 warga Palestina, termasuk pimpinan Hamas, Salah al-Bardawil. Dampakmya, para pelaku pasar kembali memburu dolar AS, sehingga indeks dolar AS melonjak, yakni berada di level 104,12 pada awal pekan ini.

Ilustrasi Antara

Berdasarkan penelusuran VOI di awal pekan ini, beberapa mata uang Asia terpantau melemah, antara lain Yen Jepang (-0,33%), Ringgit Malaysia (-0,27%), Baht Thailand (-0,24%), Won Korsel (-0,21%), Dolar Taiwan (-0,12%), Yuan Renminbi (-0,11%), Yuan offshore (-0,09%), Peso Filipina (-0,04%), dolar Singapura (-0,04%), dan Dolar Hong Kong (1%. Dan lemahnya rupiah juga ikut terjadi seiring tekanan yang dialami Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Perdagangan indeks harga saham gabungan pada hari Senin (24/3) ikut melemah di level 6.224. Sementara di pasar surat utang, tekanan harga surat utang negara juga berlanjut setelah pekan lalu juga arus jual menguat.

Posisi Geopolitik yang Strategis

Indonesia memiliki geopolitik sangat strategis dalam interaksi global. Selain posisinya di antara dua samudera dan dua benua, jelas menunjukkan peluang bangsa ini mengambil peran besar yang bisa dimainkan di panggung internasional. Dan paling penting, negara ini juga memiliki kekayaan alam (SDA) beraneka lagi melimpah ruah yang sangat dibutuhkan oleh semua negara di dunia. Sebut saja salah satunya minyak Kelapa Sawit yang sangat dibutuhkan oleh semua negara di uni Eropa.

Tak hanya itu, posisi Indonesia berada di jalur strategis, seperti Selat Malaka, Selat Sunda, dan Selat Lombok, yang menjadi rute perdagangan global utama. Kontrol terhadap rute ini membuat Indonesia memiliki daya tawar tinggi dalam hal perdagangan dan keamanan maritim.

Atas dasar ini pemerintah memainkan peran utama dalam mengatur industri dan dapat memengaruhi perekonomian saat membuat keputusan tentang perjanjian perdagangan, undang-undang, dan kebijakan. Lantas bagaimana cara terbaik mengelola posisi geopolitik negara yang strategis ini hingga mendapatkan keuntungan dan mengurangi ketergantungan terhadap negara lain? Kata kuncinya hanya satu, diversifikasi.

Posisi Geopolitik Indonesia yang Strategis (istimewa)

Diversifikasi, dalam konteks bisnis dan investasi, adalah strategi untuk memperluas atau menyebarkan kegiatan, produk, aset, atau investasi untuk mengurangi risiko ketergantungan dan meningkatkan peluang keuntungan. Dalam suasana ketegangan dan ketidakstabilan geopolitik internasional akibat perang Rusia-Ukraina, Israel-Lebanon- Palestina, diversifikasi fokus kepada logam mulia, komoditas pangan, pertahanan dan energi.

Pengusaha kelahiran Kanada 1870, Arthur W Cutten dalam otobiografinya "The Story of a Speculator," menulis tentang dampak perang pada gandum berjangka. "Pada masa perang, gandum tidak hanya menjadi komoditas tetapi juga sumber daya penting bagi negara-negara. Fluktuasi gandum berjangka di Chicago Board of Trade (CBOT) yang mencerminkan urgensi dan ketidakpastian periode tersebut, karena permintaan untuk memberi makan tentara dan populasi meningkat secara dramatis, mendorong harga ke ketinggian yang tidak dapat diprediksi. Kesimpulan dari tulisan Cutten ini negara perlu fokus terhadap ketahanan pangan di tengah ketidakstabilan geopolitik.

Tanggapan Presiden Atas Jatuhnya IHSG

Presiden Prabowo Subianto memastikan kondisi pangan nasional tetap terkendali menjelang Lebaran 2025. Prabowo menilai dengan stabilnya pangan nasional, itu lebih penting dari naik turunnya saham yang terjadi saat ini.

"Pangan adalah yang paling utama. Harga saham boleh naik turun, pangan aman, negara aman," ujar Prabowo dalam sidang kabinet di Istana Jakarta, Jumat, 21 Maret, dilansir dari Antara..

Prabowo pun mengatakan harga pangan yang terkendali ini tidak boleh dianggap biasa. Apalagi, Indonesia merupakan negara keempat terbesar di dunia. Presiden menyadari selama bertahun-tahun kekhawatiran terhadap ketahanan pangan dan ketergantungan pada impor selalu menjadi isu penting. Namun, pada tahun ini produksi pangan dinilai sangat baik, dan harga-harga pangan hingga saat ini masih terkendali.

"Pada bulan puasa dan menjelang Lebaran, pangan kita aman, kondisi pangan kita cukup terkendali," ujar Prabowo.