Menlu Australia Sebut Periode Kedua Presiden Trump Lebih Mengganggu
JAKARTA - Periode kedua kepresidenan Donald Trump sudah lebih mengganggu daripada periode pertamanya, kata Menteri Luar Negeri Australia pada Hari Rabu, meski di saat yang sama Ia masih berharap negaranya akan mendapatkan pengecualian dalam hal tarif.
Menteri Luar Negeri Penny Wong mengatakan "tidak ada keraguan" dari serangkaian perintah eksekutif Trump sejak menjabat lebih dari enam minggu lalu, Australia berhadapan dengan "pemerintahan Amerika yang sangat berbeda".
"Presiden Trump dan pemerintahannya membayangkan Amerika yang sangat berbeda di dunia," katanya dalam Australian Financial Review Business Summit di Sydney, melansir Reuters 5 Maret.
"Kami melihat itu di pemerintahan Trump pertama, tetapi saya pikir jelas bahwa skala perubahan dalam pemerintahan ini, periode kedua pemerintahan Trump bahkan lebih dari itu," lanjutnya.
Lebih jauh Menlu Wong mengatakan tarif telah menjadi fokus utama Presiden Trump dan Australia masih mendorong pengecualian dengan tarif 25 persen untuk baja dan aluminium yang akan dimulai minggu depan.
"Saya tidak akan mengakui bahwa (kami tidak akan mendapatkan pengecualian tarif). Kami masih, mengemukakan argumen kami dengan sangat jelas dan argumen kami, menurut saya, adalah argumen yang kuat," katanya.
Baca juga:
- Sebut Ukraina Bersedia Berunding dan Rusia Siap Berdamai, Presiden Trump: Waktunya Mengakhiri Perang
- Presiden Zelensky Perintahkan Menteri Pertahanan Cari Informasi Akurat Tentang Bantuan Militer AS
- Tolak Rencana Arab, Gedung Putih: Presiden Trump Berpegang pada Pembangunan Kembali Gaza Tanpa Hamas
- Hamas akan Mendukung Rencana Arab Mengenai Jalur Gaza Jika Didukung oleh Palestina
Ia menambahkan, Negeri Paman Sam adalah mitra strategis terpenting Australia dan aliansi tersebut telah bertahan terhadap orang-orang, pemerintahan, dan pemerintahan dari semua aliran politik.
"Akan ada area di mana posisi kami dan posisi AS mungkin berbeda. Itu selalu terjadi. Kami harus menavigasinya dengan bijaksana. Kami harus mengingat nilai aliansi," katanya.