Koalisi Permanen Tergantung Hubungan Prabowo dengan Jokowi dan KIM

JAKARTA – Pengamat politik UIN Walisongo Semarang, Kholidul Adib menyebut pembentukan dan eksistensi koalisi permanen yang digagas Presiden Prabowo Subianto sangat tergantung pada dinamika politik yang terjadi hingga tahun 2029 mendatang.

“Tergantung dinamikanya, bisa saja koalisi semacam itu bubar di tengah jalan karena Prabowo gagal memenuhi kepentingan politik semua anggota KIM. Tapi bila Prabowo mampu meramu kekuatan KIM dengan menjaga kepentingan masing-masing partai anggota KIM, saya kira, sangat memungkinkan KIM akan bertahan hingga 2029,” ungkapnya, Minggu 23 Februari 2025.

Selain itu, pembentukan dan eksistensi koalisi permanen juga akan tergantung pada hubungan antara Prabowo dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi). sebab, hubungan harmonis keduanya memperbesar peluang pembentukan koalisi permanen besar.

Kholidul mencontohkan bagaimana Prabowo masih “membiarkan” Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang notabene orang dekat Jokowi tetap di posisinya meskipun digoyang isu kelangkaan dan larangan penjualan gas elpiji tiga kilogram di tingkat pengecer.

“Kalaupun terpaksa Bahlil diganti, paling rotasi atau geser menteri. Soalnya, Bahlil masih menjabat Ketum Partai Golkar. Terkecuali dinamika internal Golkar menggelar munaslub untuk mengganti Bahlil di tengah jalan sehingga peluang mengganti Bahlil itu terbuka dan itu berarti orang-orang Jokowi di Golkar mulai disingkirkan,” terangnya.

Menurut dia, niat Prabowo membentuk koalisi permanen karena ingin mempertahankan kekuatan politiknya untuk maju kembali di Pilpres 2029. Sebab, dalam pandangannya saat ini, Pilpres 2029 kemungkinan akan diikuti tiga poros, yakni poros KIM, poros PDI Perjuangan, serta poros PKS dan NasDem.

“Kalau PKB saya yakin bertahan di KIM. Karena Prabowo mampu menggaransi kepemimpinan Muhaimin aman dan tidak digoyang oleh MLB kubu Lukman Edi dan kawan-kawan yang didukung Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf,” tambah Kholidul.