Lagu-lagu Ismail Marzuki Jadi Inspirasi Drama Musikal MAR yang Akan Dipentaskan Tiga Hari di Jakarta

JAKARTA - Drama musikal “MAR” yang diproduksi ArtSwara siap untuk dipentaskan selama tiga hari di Ciputra Artpreneur Theatre, Jakarta Selatan, 26-28 Februari mendatang.

“MAR” merupakan sebuah pagelaran drama musikal yang terinspirasi dari lagu-lagu Ismail Marzuki, sekaligus menjadi tribute untuk (Alm) Arifin Panigoro dan (Alm) Raisis Arifin Panigoro yang sangat mengagumi karya-karya sang maestro.

Dian HP yang ditunjuk sebagai penata musik sekaligus komposer mengaku senang dengan keterlibatannya dalam drama musikal “MAR”. Pasalnya, ia merasa dekat dengan karya-karya Ismail Marzuki.

"Saya telah mencintai lagu-lagu Marzuki sejak kecil – mereka indah dan inspiratif, mendorong kita untuk mengembangkannya ke dalam berbagai genre musik dari masa lalu dan masa sekarang," kata Dian HP dalam keterangannya, Rabu, 19 Februari.

Dalam pementasan nanti, Dian berikhtiar untuk melebur elemen musik Jazz oldies dengan dengan musik modern ke dalam lebih dari 40 repertoar yang terjalin sepanjang alur kisah musikal ini.

Pendekatan jazz lawas dipilih untuk mencerminkan kondisi Bandung tahun 1940an sebagai latar, dimana musik jazz pada periode tersebut sudah dikenal di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Suara falsetto khas lagu-lagu oldies dan elemen resitatif yang terintegrasi dalam dialog yang dibawakan oleh para aktor dan aktris akan memperkaya pengalaman musikal bagi para penonton.

"Penghormatan saya kepada Ismail Marzuki adalah melalui aransemen yang saya kreasikan, menggabungkan elemen vokal dan ansambel yang memadukan jazz lawas yang justru memperkuat atmosfer dan semangat patriotisme dalam karya-karya sang maestro," lanjut Dian.

Sementara itu, Davit Fitrik dan Hamada selaku koreografer pada pementasan ini mengatakan, gerakan tari dalam "MAR" mencerminkan tidak hanya adegan dan kisah yang disampaikan, namun juga meliputi aspek nuansa sejarah yang ada di dalamnya.

"Konteks waktu dalam produksi musikal 'MAR' menjadi elemen kuat saat kami memilih gerakan dan koreografi, untuk menghubungkannya dengan jalan cerita," ujar Davit.

Adapun, drama musikal “MAR” disutradarai oleh Wawan Sofwan dengan naskah yang ditulis oleh Titien Wattimena. Pementasan ini menjanjikan pengalaman dalam bentuk paduan antara sejarah, musik, dan romansa, dengan menampilkan kisah cinta dan ketabahan dengan latar belakang perjuangan Indonesia usai kemerdekaan yang diikuti dengan terjadinya insiden tragis bersejarah, Bandung Lautan Api.

"Kami bertujuan untuk menciptakan produksi yang tidak hanya menghormati warisan Ismail Marzuki, tetapi juga beresonansi dengan penonton secara pribadi. Konteks historis dan perjalanan emosional karakter ditenun dengan rapi ke dalam narasi, membuat ceritanya menjadi menarik dan relevan."

Adapun, mereka yang akan tampil di atas panggung adalah Gabriel Harvianto sebagai pemeran utama, dengan kekasihnya yang diperankan oleh Galabby Thahira. Selain itu, ada juga Taufan Purbo Kusumo, Ni Made Ayu Vania Aurellia, Bima Zeno Pooroe, dan Witrie.

"Di satu sisi, kami berurusan dengan cerita cinta fiktif, tetapi di sisi lain, kami bekerja dengan fakta sejarah. Kami meneliti lokasi di Bandung, seperti Rumah Sakit Immanuel dan barak militer di Tegalega. Kami ingin punya gambaran lebih jelas mengenai situasi yang ditampilkan dalam kisah musikal ini," pungkas sang sutradara.