Iran akan Kirim Delegasi Tingkat Tinggi ke Pemakaman Mendiang Pemimpin Hizbullah Nasrallah Akhir Pekan Ini

JAKARTA - Iran memastikan akan mengirim delegasi tingkat tinggi ke pemakaman mendiang pemimpin kelompok militan Hizbullah akhir pekan ini, meski dibayangi larangan pesawat penumpang Iran terbang ke Lebanon.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmail Baghaei dalam konferensi pers Hari Senin mengatakan, pemakaman Nasrallah akan sangat penting, sehingga Iran akan berpartisipasi tingkat tertinggi, dikutip dari IRNA 17 Februari.

Kendati demikian, Baghaei tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai siapa pejabat Teheran yang akan datang dalam pemakaman yang digelar pada tanggal 23 Februari tersebut.

Ketika ditanya tentang perselisihan baru-baru ini dengan Pemerintah Lebanon di mana Beirut tidak mengizinkan pesawat penumpang Iran terbang ke Lebanon, dan percakapan telepon antara Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dan mitranya dari Lebanon, Baghaei mengatakan Menlu Araghchi telah menekankan, pihak ketiga tidak boleh diizinkan untuk memengaruhi pengambilan keputusan.

Pihak berwenang Lebanon melarang penerbangan tersebut mendarat hingga 18 Februari, setelah tuduhan Israel bahwa Teheran menggunakan pesawat sipil untuk menyelundupkan uang tunai ke Beirut untuk mempersenjatai Hizbullah.

“Pembicaraan terus berlanjut, dan kami berharap dapat mencapai solusi rasional yang akan memenuhi kepentingan rakyat Iran dan Lebanon,” katanya.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei. (Sumber: IRNA)

Diberitakan sebelumnya, jasad mendiang Pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah akan dimakamkan setelah masa gencatan senjata awal 60 hari dengan Israel berakhir, kata seorang pejabat senior Hizbullah saat mengunjungi tempat di mana Nasrallah tewas.

Berbicara kepada para wartawan di daerah kubu Syiah Dahiyeh, pinggiran selatan Beirut bulan lalu, Wafiq Safa mengatakan persiapan pemakaman Nasrallah dan penggantinya, Hashem Safieddine, sedang berlangsung.

Diketahui, Israel dan Hizbullah menyepakati gencatan senjata pada 27 November. Gencatan senjata selama 60 hari yang ditengahi Amerika Serikat itu memerintahkan penarikan militer Israel secara bertahap setelah lebih dari setahun perang, sesuai dengan resolusi Dewan Keamanan PBB tahun 2006 yang mengakhiri konflik besar terakhir mereka, dikutip dari Reuters.

Berdasarkan perjanjian tersebut, para pejuang Hizbullah harus meninggalkan posisi di Lebanon selatan dan bergerak ke utara Sungai Litani, yang mengalir sekitar 20 mil (30 km) di utara perbatasan dengan Israel, bersamaan dengan penarikan penuh pasukan Israel dari selatan.

Batas waktu tersebut kemudian diperpanjang hingga 18 Februari, tetapi militer Israel meminta agar pasukannya tetap berada di lima pos di Lebanon selatan, sumber mengatakan kepada Reuters minggu lalu.

Nasrallah terbunuh dalam serangan udara Israel yang menargetkan benteng Hizbullah di Dahiyeh, selatan Beirut pada 27 September. Pesawat-pesawat tempur Israel menjatuhkan lebih dari 100 bom seberat lebih dari 80 ton bom penghancur bunker, yang menghancurkan enam bangunan dan markas besar Hizbullah.

Nasrallah terbunuh, bersama para komandan Hizbullah lainnya termasuk Ali Karaki, kepala militer Hizbullah yang saat itu ditunjuk sebagai komandan front selatan.

Pada tanggal 3 Oktober, serangan Israel berikutnya menargetkan sebuah bunker bawah tanah di Dahiye, menewaskan Safieddine, sosok yang sebelumnya disebut akan menggantikan Nasrallah, dengan laporan yang mengindikasikan bahwa bom seberat lebih dari 70 ton digunakan.

Pada Bulan Oktober, sumber yang dekat dengan Hizbullah mengatakan, Nasrallah, telah dimakamkan sementara di sebuah lokasi rahasia karena khawatir Israel akan menargetkan pemakaman besar-besaran.

"Hassan Nasrallah telah dimakamkan untuk sementara waktu, sampai situasi memungkinkan untuk pemakaman umum," kata sumber tersebut, dikutip dari The Hindu.