Rusia Kecam Niat Trump Bangun ‘American Iron Dome’
JAKARTA - Rusia mengecam perintah eksekutif Presiden AS Donald Trump untuk membangun perisai pertahanan rudal baru. Rusia menuduh Amerika Serikat berusaha mengganggu keseimbangan nuklir global dan membuka gelombang konfrontasi militer di luar angkasa.
Trump sebelumnya menandatangani perintah yang mengandalkan proses untuk mengembangkan ‘American Iron Dome’. Ini menjadi perisai pertahanan rudal generasi baru AS terhadap rudal balistik, hipersonik, jelajah, dan bentuk serangan udara lainnya.
Gedung Putih mengatakan tujuannya adalah untuk memodernisasi sistem yang sudah ketinggalan zaman dan mengatasi “ancaman bencana” yang menjadi lebih kompleks ketika musuh-musuh AS mengembangkan sistem pengiriman baru.
Namun juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova mengatakan rencana itu bertujuan untuk melemahkan kemampuan Rusia dan China dalam melakukan pencegahan nuklir.
Zakharova mengatakan rencana tindakan AS akan menghambat prospek perundingan mengenai pengendalian senjata nuklir.
“(Rencana tersebut) secara langsung membayangkan penguatan signifikan persenjataan nuklir Amerika dan sarana untuk melakukan operasi tempur di luar angkasa, termasuk pengembangan dan penyebaran sistem intersepsi berbasis ruang angkasa,” kata Zakharova kepada wartawan pada konferensi pers di Moskow dilansir Reuters, Jumat, 31 Januari.
“Kami menganggap ini sebagai konfirmasi lain dari fokus AS dalam mengubah luar angkasa menjadi arena konfrontasi bersenjata dan penempatan senjata di sana. Pendekatan AS yang ditunjukkan tidak akan berkontribusi untuk mengurangi ketegangan atau memperbaiki situasi di bidang strategis, termasuk menciptakan landasan bagi dialog yang bermanfaat mengenai senjata ofensif strategis,” paparnya.
Pernyataan Iron Dome Gedung Putih tidak mengacu pada penguatan persenjataan nuklir AS, namun mengatakan:
“Iron Dome akan mewujudkan tujuan perdamaian melalui kekuatan. Dengan memberdayakan Amerika Serikat dengan kemampuan serangan kedua, Iron Dome akan mencegah musuh melakukan serangan terhadap negaranya.”