Poin Utama Proposal Gencatan Senjata Hamas-Israel di Gaza: Pembebasan 33 Sandera hingga Penarikan Tentara

JAKARTA - Kelompok militan Palestina Hamas dan Israel telah menerima draf akhir kesepakatan gencatan senjata dan pertukaran sandera dengan tahanan untuk mengakhiri konflik terbaru yang telah berlangsung selama 15 bulan.

Rincian kesepakatan direncanakan dilanjutkan hari ini, dengan Amerika Serikat, Mesir dan Qatar terus berupaya kesepakatan tercapai sebelum Presiden Joe Biden turun dari jabatannya digantikan Donald Trump pekan depan.

"Kesepakatan itu akan membebaskan para sandera, menghentikan pertempuran, memberikan keamanan bagi Israel dan memungkinkan kami untuk secara signifikan meningkatkan bantuan kemanusiaan bagi warga Palestina yang sangat menderita dalam perang yang dimulai oleh Hamas ini," kata Presiden Biden, melansir Reuters 14 Januari.

Hamas belum memberikan rincian apa pun. Sedangkan pejabat Israel dalam pengarahannya kepada wartawan menjelaskan beberapa poin utama proposal tersebut.

Mengenai pembebasan sandera, pada tahap pertama ada 33 sandera yang akan dibebaskan, terdiri dari anak-anak, wanita, termasuk tentara wanita, pria berusia di atas 50 tahun, yang terluka dan sakit. Israel yakin sebagian besar masih hidup tetapi belum mendapat konfirmasi resmi dari Hamas.

Jika tahap pertama berjalan sesuai rencana, pada hari ke-16 sejak kesepakatan mulai berlaku, negosiasi akan dimulai pada tahap kedua, di mana para sandera yang masih hidup - tentara pria dan pria yang berusia cukup untuk wajib militer - akan dibebaskan dan jenazah para sandera yang telah meninggal akan dikembalikan.

Berikutnya, mengenai penarikan pasukan, akan dilakukan secara bertahap, dengan pasukan Israel tetap berada di perimeter perbatasan untuk mempertahankan kota-kota dan desa-desa perbatasan Israel. Selain itu, akan ada pengaturan keamanan di Koridor Philadelphia, di sepanjang tepi selatan Gaza, dengan Israel menarik diri dari beberapa bagiannya setelah beberapa hari pertama kesepakatan.

Sementara itu, penduduk Gaza utara yang tidak bersenjata akan diizinkan kembali, dengan mekanisme untuk memastikan tidak ada senjata yang dipindahkan ke sana.

Selain itu, pasukan Israel akan ditarik dari Koridor Netzarim di Gaza tengah.

Di sisi lain, militan Palestina yang dihukum karena pembunuhan atau serangan mematikan juga akan dibebaskan, tetapi jumlahnya akan bergantung pada jumlah sandera yang masih hidup, yang masih belum diketahui.

Para tahanan tidak akan dilepaskan ke Tepi Barat. Sementara, anggota Hamas yang ikut serta dalam serangan 7 Oktober 2023 terhadap Israel tidak akan dibebaskan.

Mengenai bantuan kemanusiaan, akan ada peningkatan tang signifikan ke Jalur Gaza, di mana badan-badan internasional termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa memperingatkan penduduknya menghadapi krisis kemanusiaan yang parah.

Israel mengizinkan bantuan masuk ke daerah kantong itu, tetapi ada perselisihan mengenai jumlah yang diizinkan masuk serta jumlah yang sampai ke orang-orang yang membutuhkan, dengan penjarahan oleh geng-geng kriminal menjadi masalah yang semakin meningkat.

Terakhir, siapa yang akan memimpin Gaza usai perang adalah salah satu hal yang belum diketahui dalam negosiasi dan belum dibahas karena kompleksitas dan kemungkinan menghambat kesepakatan.

Israel mengatakan Hamas tidak dapat memainkan peran apa pun dan telah menolak keterlibatan Otoritas Palestina, badan yang dibentuk berdasarkan perjanjian perdamaian sementara Oslo tiga dekade lalu yang menjalankan kedaulatan terbatas di Tepi Barat yang diduduki.

Israel juga telah menyatakan sejak awal operasinya di Gaza, mereka akan mempertahankan kendali keamanan atas daerah kantong itu setelah pertempuran berakhir.

Ada pun masyarakat internasional telah menyatakan Gaza harus dijalankan oleh warga Palestina, tetapi upaya untuk menemukan alternatif bagi faksi-faksi utama di antara masyarakat sipil atau pemimpin klan sebagian besar terbukti tidak membuahkan hasil.

Namun, telah ada diskusi antara Israel, Uni Emirat Arab dan Amerika Serikat mengenai pemerintahan sementara yang akan menjalankan Gaza hingga Otoritas Palestina yang direformasi dapat mengambil alih.