Waktu Demo PA 212 Dihadiri Ribuan Massa, Penjual Slayer Tauhid Ini Dapat Untung Rp1 Juta, Tapi Baru Kali Ini Seharian Dagang Dapat Rp100 Ribu

JAKARTA – Sudrajat (37) tak menyangka aksi demo PA 212 di Patung Kuda, Jakata Pusat, Jumat, 25 Maret, begitu sepi. Tak seperti sebelumnya, demo PA 212 yang selalu ramai, massa datang dari penjuru daerah berkumpul di satu titik. Sudrajat mengaku prihatin dengan jumlah massa yang berkurang, sebab itu membuat omzetnya juga ikut berkurang.

Bapak satu anak yang akrab disapa Ajat ini mengaku, setiap aksi Reuni 212 dirinya tak pernah absen, dia selalu hadir. Selain kecintaannya terhadap Islam, Ajat juga memanfaatkan momen itu untuk mengais rejeki dengan berjualan slayer tauhid, ikat kepala bertuliskan tauhid.

Ajat mengungkapkan, pada reuni 212 lalu dihadiri ribuan jamaah. Saat itu, kata Ajat, dirinya pernah mendapatkan keuntungan mencapai Rp1 juta lebih dari hasil penjualan slayer tauhid.

Suasana demo aksi PA 212 di Patung Kuda Pintu Monas Jakpus. (Rizky Sulistio/ VOI)

"Jualan kalau peserta demo 212 ramai bisa dapat Rp1 juta lebih. Kalau sekarang baru dapat Rp100 ribu," aku Ajat kepada VOI di lokasi, Jumat 25 Maret.

Meski begitu, Ajat mengaku tetap bersyukur. Menurut dia, dari hasil penjualan slayer tauhid, dirinya dapat menafkahi anak dan istrinya.

"Dari awal reuni, saya ikut terus, aktif. Jualan slayer harga Rp5 ribu rupiah per pieces (potong). Saya jual slayer tauhid dan slayer merah putih," ucap Ajat warga Kecamatan Senen, Jakarta Pusat.

Ajat menjelaskan, barang dagangannya hanya dapat dijajakan pada momen tertentu saja, seperti di acara tablig akbar dan Maulid Nabi.

"Karena kan demo enggak selalu ada setiap hari. Jadi inisiatifnya jualan di tablig akbar dan Maulid Nabi," aku Ajat.

Ajat mengaku, slayer tauhid yang dijualnya dibuat sendiri, bukan membeli dari pihak lain.

"Slayer ikat kepala saya beli bahan polos gulungan, nanti digunting. Satu gulung jadi 24 potong slayer. Kemudian disablon teman. Kemudian kita jual per satu potong seharga Rp5 ribu," urai Ajat.