Moskow Ancam Setop Pasokan Gas ke Eropa, Harga Minyak Bisa Terkerek 300 Dolar Per Barel

JAKARTA - Negara-negara barat masih terus melancarkan sanksi ekonomi ke Rusia setelah melakukan negara Vladimir Putin itu tak kunjung menghentikan invasinya ke Ukraina. Kali ini Moskow coba membalas. Ancam menghentikan seluruh pasokan gas ke eropa.

Kremlin telah mengancam akan memotong pasokan gas ke Eropa. Ancaman itu jangan dianggap sepele kalau negara barat masih terus meningkatkan perang ekonomi mereka melawan Rusia dengan melarang impor energi.

Kalau itu terjadi, harga minyak bisa meroket hingga $300 per barel.

Saat ini saja kenaikan harga minyak dunia sudah mencapai 120 dolar AS per barel akibat konflik Rusia dan Ukraina. Itu jelas memukul anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) karena angka segitu jauh dari asumsi APBN yang ditetapkan pada level 63 dolar AS per barel.

Rusia menyebar ancaman itu ketika para pemimpin Eropa bersiap untuk bertemu di Versailles membahas penghentian benua dari gas dan minyak Rusia. Moskow memperingatkan bahwa setiap langkah seperti itu dapat menjadi bencana bagi pasar global.

"Penolakan minyak Rusia akan menyebabkan konsekuensi bencana bagi pasar global," kata wakil perdana menteri Rusia Alexander Novak, dikutip dari The Guardian, Selasa 8 Maret.

Rusia telah memperingatkan bahwa mereka mungkin menghentikan aliran gas melalui pipa dari Rusia ke Jerman sebagai tanggapan penghentian pembukaan pipa Nord Stream 2 baru yang kontroversial.

“Kami memiliki hak untuk mengambil keputusan yang sesuai dan memberlakukan embargo pada pemompaan gas melalui pipa gas Nord Stream 1,” kata Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak dalam kesempatan yang sama dikutip dari Al Jazeera.

Nord Stream 2 adalah pipa sepanjang 1.200 km di bawah Laut Baltik, yang akan membawa gas dari pantai Rusia dekat St Petersburg ke Lubmin di Jerman.

Raksasa energi milik negara Rusia Gazprom menanggung setengah dari biaya dan perusahaan energi barat seperti Shell dan ENGIE dari Prancis membayar sisanya.

Nord Stream 2 berjalan paralel dengan pipa gas yang ada, Nord Stream, yang telah bekerja sejak 2011.