Survei Indikator: Lebih Banyak Masyarakat Ogah Divaksin Booster

JAKARTA - Lembaga survei Indikator Politik Indonesia merilis jajak pendapat mengenai perkembangan pandemi COVID-19 di Indonesia, salah satunya mengenai vaksinasi dosis ketiga atau booster (Penguat).

Direktur Eksekutif Indikator Burhanuddin Muhtadi memaparkan, survei menunjukkan mayoritas responden enggan menerima vaksinasi booster.

"Soal booster, 54,8 persen tidak setuju, 41,7 persen setuju. Bahkan, dikasih booster pun masyarakat lebih banyak yang tidak setuju ketimbang setuju," kata Burhanuddin dalam pemaparan survei virtual, Minggu, 9 Januari.

Selain booster, responden juga diminta untuk memberikan pandangannya terhadap vaksinasi anak usia 3 sampai 12 tahun. Mereka juga cenderung lebih tidak setuju, yakni sebesar 63 persen. Sementara, hanya 34 persen yang setuju.

Burhanuddin memandang, hal ini bisa menjadi masalah tersendiri dari pelaksanaan vaksinasi COVID-19. Burhanuddin mengungkapkan, jika banyak masyarakat yang enggan mengikuti program vaksinasi pemerintah seperti booster dan vaksinasi anak, maka ada potensi stok vaksin menjadi kedaluwarsa.

"Ini yang menyebabkan isu terkait dengan beberapa vaksin yang tidak segera terdistribusi, itu potensial expired karena makin lama makin sulit untuk dicari warga yang bersedia untuk divaksin. Sementara vaksinnya ada, tetapi kalau secara psikologis masyarakat menolak, itu juga jadi masalah," jelas Burhanuddin.

Karenanya, Burhanuddin meminta pemerintah segera mencari solusi atas keengganan masyarakat untuk divaksinasi demi mengendalikan pandemi di Tanah Air.

"Ini isu yang menurut kami serius harus segera diatasi, karena bagaimanapun masalah ini bisa menjadi masalah tersendiri di luar dari isu teknis terkait dengan ketersediaan vaksin dan vaksinator. Kalau masyarakat tidak setuju, ya repot," ungkap dia.

Diketahui, survei ini dilakukan pada periode 16 sampai 11 Desember 2021 kepada responden warga negara Indonesia yang sudah berusia 17 tahun atau lebih, atau sudah menikah ketika survei dilakukan.

Survei dilakukan melalui wawancara tatap muka kepada 1.220 responden yang dipilih secara acak. Ada pun margin of error survei ini diperkirakan sekitar 2,9 persen dan tingkat kepercayaan survei sebesar 95 persen.