Bagikan:

​oleh Arman Saputra (Pengamat Politik Ekonomi)

JAKARTA – Ekonomi Indonesia di awal 2026 ini sejatinya sedang tidak dalam kondisi "baik-baik saja". Badai krisis global masih mengintai di cakrawala. Namun, di tengah ketidakpastian itu, angka pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,61% pada Triwulan I-2026 muncul sebagai anomali yang melegakan sekaligus mengejutkan dunia.

Banyak yang bertanya, siapa mesin penggerak di balik angka impresif ini? Salah satu jawabannya terletak pada keberanian kebijakan dan visi besar ekonomi Presiden Prabowo Subianto dalam merombak total arsitektur perusahaan negara. Melalui pembentukan Badan Pengelola (BP) BUMN dan Danantara, pemerintah tidak hanya sekedar melakukan reorganisasi, melainkan mencetak sejarah baru dalam manajemen kekayaan negara.

Selama ini, BUMN kita sering dianggap sebagai raksasa yang lamban, terbelit birokrasi, dan kehilangan fokus. Namun, di bawah payung BP BUMN dan Danantara, perusahaan-perusahaan negara ini bertransformasi menjadi kekuatan tempur yang sangat fokus.

Jika kita ibaratkan ekonomi sebagai sebuah semesta, BUMN kini bukan lagi pahlawan yang bertarung sendiri-sendiri, melainkan "The Avengers" yang berada di bawah satu komando strategis yang solid.

Langkah yang dilakukan oleh Prabowo untuk membentuk Danantara adalah sebuah masterstroke atau langkah cerdas yang fundamental. Dengan memisahkan peran regulator dan operator, BUMN kini bisa lebih lincah, profesional, dan fokus pada maksimalisasi keuntungan yang muaranya kembali ke rakyat.

Ini adalah prestasi ekonomi yang bersejarah; sebuah pergeseran paradigma dari manajemen gaya lama menuju pengelolaan aset negara yang berkelas dunia. ​Layaknya tim Avengers yang terkadang butuh "teguran keras" dari Nick Fury agar berhenti bekerja secara individual, BUMN kita pun mengalami hal yang sama.

"Sentilan" pemerintah terhadap Bank Himbara (Himpunan Bank Milik Negara) beberapa waktu lalu menjadi plot twist yang krusial. Alih-alih merajuk, teguran agar mereka lebih efisien dan berani menyalurkan kredit justru menjadi bahan bakar energi baru.

​Sinyal efektivitas BP BUMN dan Danantara tampak dari performa bank BUMN yang menggigit. Rata-rata laba bersih Bank Himbara tumbuh 12,4% (yoy) di Q1-2026. Ini bukan soal memperkaya korporasi, tetapi soal memperkuat fondasi fiskal negara. Penyaluran kredit pun melonjak 11,8%, dengan fokus tajam pada UMKM dan hilirisasi industri. Dua sektor yang menjadi urat nadi kedaulatan ekonomi kita.

Dalam tiga bulan pertama, sinergi BUMN telah menyetor pajak, dividen, dan PNBP sebesar Rp 120-135 Triliun. Angka raksasa ini memastikan APBN kita tidak "sesak napas" meskipun di tengah gempuran krisis global. Ketika mesin perbankan dan investasi di bawah Danantara bergerak, ekonomi tidak punya pilihan lain selain ikut berputar.

Kredit yang mengalir deras membuat UMKM naik kelas dan lapangan kerja baru bermunculan. Di saat yang sama, BUMN pangan seperti Bulog dan ID FOOD bertindak sebagai perisai yang menjaga daya beli sehingga konsumsi rumah tangga tetap tegak di angka 5,05%.

Keberhasilan ini menjadi sinyal kuat bagi investor asing (FDI) bahwa Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo bukan sekadar tempat menaruh modal, tetapi sebuah ekosistem yang dikelola secara profesional dan visioner. Tentu saja, angka 5,61% ini masih jauh dari kata End Game.

Target pertumbuhan ekonomi 8 persen tetap menjadi visi besar yang harus diperjuangkan. Namun, keberhasilan pembentukan BP BUMN dan Danantara telah memberikan kita kompas dan pedoman yang jelas. BUMN kini telah membuktikan identitasnya sebagai Value Creator sekaligus Agent of Development.

Dengan kerja keras, jatuh-bangun, dan semangat pantang menyerah, "Avengers" ekonomi kita di bawah komando Presiden Prabowo siap menghadapi pertempuran ekonomi dunia yang lebih besar. Sejarah akan mencatat bahwa di titik inilah, fondasi ekonomi Indonesia yang mandiri dan berdaya saing global benar-benar diletakkan.