JAKARTA - Menteri Perdagangan China Wang Wentao mengatakan negaranya ingin memulihkan hubungan dagangnya dengan Amerika Serikat (AS) ke posisi yang stabil.

Perundingan baru-baru ini di Eropa menunjukkan tidak perlunya perang tarif, sekaligus mendesak AS untuk bertindak selayaknya negara adidaya.

Mendag China mengatakan kepada wartawan pada Jumat, 18 Juli, "pasang surut" hubungan kedua negara menggarisbawahi saling ketergantungan ekonomi mereka.

"Negara-negara besar harus bertindak seperti negara-negara besar. Mereka harus memikul tanggung jawab mereka," kata Wang Wentao sambil menegaskan Tiongkok akan melindungi kepentingan nasionalnya.

China menghadapi tenggat waktu 12 Agustus untuk mencapai kesepakatan tarif berkelanjutan dengan Amerika Serikat, setelah Beijing dan Washington mencapai kesepakatan awal bulan lalu untuk mengakhiri eskalasi tarif yang saling berbalas selama berminggu-minggu.

Jika tidak tercapai kesepakatan, rantai pasokan global dapat menghadapi gejolak baru akibat bea masuk yang melebihi 100%.

Wang mengatakan negosiasi di Jenewa dan London awal tahun ini menunjukkan perang dagang tidak perlu kembali terjadi.

"Praktik telah membuktikan bahwa melalui dialog dan konsultasi, dengan kepemimpinan dan komunikasi di tingkat tertinggi, kita dapat mengelola kontradiksi dan menyelesaikan perbedaan dengan baik," ujarnya.

"Kami akan terus memperkuat dialog dan komunikasi, memperdalam konsensus, mengurangi kesalahpahaman, meningkatkan kerja sama, untuk bersama-sama mengembalikan hubungan ekonomi dan perdagangan Tiongkok-AS ke jalur yang benar demi mencapai pembangunan yang sehat, stabil, dan berkelanjutan,” sambungnya.

Ekspor logam tanah jarang Tiongkok naik 32% secara bulanan pada Juni, data bea cukai menunjukkan pada Senin.

Ini menjadi pertanda kesepakatan yang dicapai bulan lalu di London untuk membebaskan aliran logam tersebut kemungkinan membuahkan hasil.

Produsen cip Nvidia (NVDA.O) juga akan melanjutkan penjualan cip AI H20-nya ke Tiongkok, kata CEO Jensen Huang dalam acara di Beijing minggu ini, langkah yang menurut Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick juga merupakan bagian dari negosiasi mengenai logam tanah jarang.

Wang mengatakan tingkat tarif keseluruhan yang dikenakan AS terhadap Tiongkok saat ini "masih tinggi" di angka 53,6%.

Para analis mengatakan bea masuk tambahan yang melebihi 35% kemungkinan akan menggerus margin keuntungan produsen Tiongkok.

"Kedua belah pihak telah memahami bahwa mereka saling membutuhkan, karena banyak barang dan jasa yang kita tukarkan tidak tergantikan, atau setidaknya sulit dipertukarkan dalam jangka pendek," kata Wang.

"Tiongkok tidak menginginkan perang dagang, tetapi tidak takut akan perang dagang," tegasnya.


The English, Chinese, Japanese, Arabic, and French versions are automatically generated by the AI. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)